Renungan Tahun Baru 2013 untuk Umat Muslim: 2013 atau 1434?

Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakatuh,
Sebelumnya, saya mengucap Selamat Tahun Baru Masehi yang ke 2013 << (harusnya begitu ngucapnya, lho).

Yah, ini termasuk postingan soal remaja, lho. Ada sangkut pautnya dengan kita. Terutama buat kita remaja Muslim.

Selamat membaca!

{image} Desktop Background PC saya (saya pakai Windows 7 Starter OS, [toolbar auto-hide mode] satu-satunya cara mengkostumisasi desktop adalah menata icon-iconnya) Menyambut 2013











Tak terasa, kita semua, warga Indonesia khususnya, dan seluruh dunia umumnya, sudah menapaki tahun dengan angka baru, 2013.

2013 tahun sudah, penanggalan Gregorian/Masehi berjalan. Bandingkan dengan penanggalan umat Muslim, penanggalan Hijriyah, yang baru mencapai tahun ke 1434.



2013 tahunnya Masehi dan 1434 tahunnya Hijriyah, punya perbedaan dalam penentuannya. Yang paling kita ketahui pastinya adalah soal jumlah hari, yaitu apabila penanggalan Masehi punya tigaratus enampuluh lima (365) hari dan tigaratus enampuluh enam (366) hari pada tahun kabisat, maka penanggalan Hijriyah punya tigaratus limapuluh empat (354) hari dan tigartus limapuluh lima (355) hari pada tahun kabisat.

Sekadar untuk menambah informasi, bahwa
  • Penanggalan Masehi, kan, memakai sistem penghitungan menyesuaikan dengan peredaran orbit Bumi/revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Nah, kalau penanggalan Hijriyah itu, memakai sistem penghitungan menyesuaikan dengan peredaran Bulan/revolusi Bulan.
  • Penetapan tahun 1 Masehi, didasarkan menurut keyakinan agama Nasrani, yaitu tahun kelahiran Isa al-Masih (atau, nih, atau, kalau kita umat Muslim, ya, kelahiran Nabi Isa 'alaihissalaam), sedangkan penetapan tahun 1 Hijriyah didasarkan menurut tahun hijrahnya Rasulullah Muhammad shallallaahu'alaihi wasallam yaitu tahun 622 M, atau tepatnya, 1 Muharram 1 H (1-1-1 H) adalah tepat 16 Juli 622 M.
  • Intinya, penanggalan Hijriyah punya relevansi dengan Masehi karena pada dasarnya adalah berasal dari tanggal 16 Juli 622 M. Namun, kedua penanggalan ini jelas berbeda seratus delapan puluh satu derajat karena Masehi menggunakan revolusi Bumi-Matahari (Syamsiyah) dan Hijriyah menggunakan revolusi Bulan-Bumi (Qamariyah).
  • Dan, intinya juga, sebenarnya kedua penanggalan ini adalah sama-sama berasal dari perjalanan hidup Nabi Allah swt. , yaitu Nabi Isa as. dan Rasulullah Muhammad saw.
Meskipun keduanya sama-sama dari Allah swt., keduanya sama-sama berasal dari perjalanan hidup dua Nabi Allah swt., ada satu keanehan yang harus kita pertanyakan kepada diri kita sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mengapa hanya Tahun Baru Masehi yang kita rayakan dengan sukacita, dengan foya-foya, dengan menghambur-hamburkan rezeki Allah swt. dsb. sedangkan Tahun Baru Hijriyyah hanya kita rayakan dengan mengucapkan "Selamat Tahun Baru Hijriyyah" saja tanpa melakukan sesuatu, bahkan sering kali kita melupakannya bahkan TIDAK INGAT dengan Tahun Baru yang 100% milik umat Islam?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Renungkanlah, kawan, renungkanlah.

Sangat ironis. 70% umat Islam Indonesia (menurut Sensus Penduduk 2010, INI SUDAH BERKURANG HINGGA 18% DARI 88% JUMLAH UMAT ISLAM SAAT SENSUS PENDUDUK 2000), meski tidak semua tentunya, tapi, sebagian besar begitu relanya menghamburkan rezeki Allah swt. hanya untuk berpesta, travelling ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, dan lain hal sebagainya yang pokoknya hanya untuk merayakan Tahun Baru Masehi, untuk dunia dan tidak ada feedback nya buat akhirat kelak. Tapi hanya menyisihkan uang pecahan kecil untuk gepeng (gelandangan-pengemis) saja susahnya setengah meninggal, seperti kita disuruh makan kotoran hewan. Aneh dan amat disayangkan.

Muslim(in+at) kan? Coba deh, pembaca tanya sama temen yang sama-sama Islam dan kemarin sampai tadi pagi merayakan Tahun Baru Masehi dengan kata-kata begini, "Tahu gak sekarang itu tahun berapa Hijriyah? Tahu gak kapan terakhir Tahun Baru Hijriyah? Kemarin ngerayain gak?" Kalo temen pembaca bisa jawab semuanya, itu bagus dan pembaca tinggal bilang, "AlhamduLillaah, muslim(in/at) beneran deh ini mah!". Kalo temen pembaca cuman bisa jawab poin ke satu dan dua, itu artinya yaa lumayan lah, pas dan gak perlu pembaca tegur itu orang. Tapi kalo temen pembaca itu gak bisa jawab, tepuk kepalanya (kalau lebih tua sebaiknya cukup lakukan hal yang setelah ini), pegang bahunya, dan katakan, "Berarti situ bukan Muslim(in/at) dong? Masa tahunnya orang Nasrani tahu tapi tahun agamanya sendiri enggak? Dasar katrok, ndeso!" (Kalau lebih tua [lagi] nih, ganti bahasanya, nanti tersinggung -_- )

Udah deh, gak perlu berbicara lebih panjang lebar dan tinggi lagi, pegel nih ngetiknya, renungin dah tuh.

Kalau mau ngerayain Tahun Baru Masehi, rayain lah dengan dzikir, do'a, tadarus al-Qur'an, dan kumpul bareng tapi di Majelis Ta'lim, di mushala-mushala/masjid-masjid di lingkungan kite, kagak perlu pake bubuk mesiu segala. Dan yang paling penting adalah, jangan lupa untuk merayakan Tahun Baru nya umat kita sendiri, Tahun Baru Hijriyah. Kalo perlu ya, lebih heboh, seperti Dzikir Akbar Nasional, Hari Baca al-Qur'an, Infaq, kumpul bareng, dan lain-lainnya yang bermanfaat dan sesuai syari'at Islam. Intinya jangan mubadzir. Rezeki Allah swt. itu sedikit yang dikasih ke kita. Harus dihitung-hitung kalo cuma untuk duniawi yang edan ini. Mending buat infaq, sedekah, investasi akhirat.

-----------------------------------------------------------------

Sekian dulu tulisan saya kali ini, mohon maaf apabila banyak kekurangan, kesalahan penggunaan kata, dan menyinggung pembaca (karena memang tujuannya tulisan ini ya buat menyinggung Muslim(in+at) yang "begitu".) Semoga bermanfaat...

Salam persahabatan, salam Blogger, dan salam dari (calon) novelis,
Mujahid Zee
Wassalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Keep Smile! :)

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)