Ayahku Pengembara Lintas Dunia

 ==Tugas Mata Pelajaran Sejarah Lintas Minat MAN Insan Cendekia Serpong==

Ayahku. Ya, ayah yang paling hebat buatku. Seorang inspirator sejati yang tak habis kata untuk menyalakan obor di dalam hati ini. Dia yang mengantarkan aku ke sekolah luar biasa, MAN Insan Cendekia Serpong. Dia yang membuatku bisa seperti ini sekarang. Mari kuceritakan sedikit tentang ayahku.




Ia lahir tanggal 16 Agustus 1971, tepat satu hari menjelang HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 26. Ia lahir di sebuah dusun sederhana di Kotamadya Cirebon, di Losari Kidul tepatnya, dekat dengan perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. Ayahku menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan yang sederhana.
Ayahku adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara. Kakak-kakaknya benar-benar mendidik ayahku agar bisa menjadi seorang calon pemimpin yang berguna bagi nusa bangsa. hal itu juga kini dlakukan olehnya padaku.
Selama masa sekolah dasar, ayahku menduduki peringkat pertama atau kedua secara bergantian. Ayahku mulai menunjukkan "kekuatannya" dalam menghafal dengan keikutsertaannya dalam lomba cerdas cermat P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila--sebuah program pemerintahan Orde Baru saat itu). Aku ingat betul saat Ayah dengan semangat menceritakan kepadaku, adikku yang cuma satu (akan kuceritakan ia nanti), dan Ibuku yang mungkin sudah berkali-kali mendengar ceritanya tentang hal itu. Itu memang salah satu pengalaman yang paling mengesankan buat ayahku. Saat mempersiapkan lomba itu, ayahku dan kedua temannya harus berlatih menghafal penjabaran-penjabaran sila yang lima yang butir-butirnya sangat banyak selama kurang lebih 3 bulan. Alhamdulillah, usahanya tak sia-sia. Ayahku menjadi juara 1 tingkat Kabupaten Cirebon dan mendapat hadiah berupa uang tunai sebesar Rp50.000,00 (yang cukup besar nilainya saat itu) plus setumpuk buku tulis yang sangat banyak.
Selepasnya dari bangku SD, ayahku bersekolah di sebuah SMP Negeri (aku lupa namanya dan sulit buatku tuk bertanya sekarang, karena sekarang aku ada di asrama) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Ayahku "merantau" (meski pulang pergi) ke sana untuk mengejar pendidikan yang lebih baik. Selama di SMP, Alhamdulillaah ayahku juga menjadi salah satu siswa terbaik.
Lulus dari SMP, ia melanjutkan pendidikannya di SMAN 2 Cirebon. Ya, "kembali" ke Cirebon karena SMAN 2 bisa dikatakan bergengsi dan sudah bagus. Ayahku terus mengembangkan kemampuan dirinya. Di SMAN 2, ayahku bertemu dengan lebih banyak teman, terutama dari etnis Tionghoa yang tergolong pintar-pintar karena keberkecukupannya, dan hal itu tentunya menjadi pemacu semangat bagi ayahku sehingga ia belajar makin giat dan menorehkan prestasi-prestasi baik akademik maupun non-akademik.
Ayahku lulus dari SMA dengan nilai EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional--kini disebut NUN [Nilai Ujian Nasional]) yang memuaskan. Melalui jalur SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri), ayahku adalah salah satu dari tigapuluhan orang yang terpilih dari ribuan orang yang ingin masuk ke Akper Depkes RI (kini Akademi Keperawatan Kemenkes RI) dan merantaulah ia dengan sungguh-sungguh ke Jakarta.
Ada sedikit cerita lucu kala ayahku--bersama kakekku--baru pertama kali menjejakkan kaki di ibukota negara itu. Jadi, kala itu, ayahku mendapatkan alamat yang salah, sehingga ayah dan kakekku menjadi "luntang-lantung" tidak tahu harus kemana. Peristiwa itu memberiku pelajaran, bahwa jika suatu saat aku akan pergi ke suatu tempat yang ibaratnya antah-berantah buatku, aku harus pastikan betul validitas alamatnya.
Selama menjalani pendidikan di Akper Depkes, ayahku mendapat ilmu luar biasa dari dosen-dosen luar biasa, sehingga setelah lulus dari sana, ayahku langsung diterima magang di sebuah rumah sakit (yang lagi-lagi aku lupa namanya) di daerah Jakarta. Nah, setelah selesai magang, Ayahku melamar kerja di sebuah rumah sakit di Jakarta. Alhamdulillah jenjang pekerjaannya sangat baik dan bahkan saat Ayahku bekerja di sana, ia berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan Sarjana Keperawatan di Universitas Indonesia (UI). Nah, saat ia melanjutkan pendidikannya itulah aku sudah berumur kurang lebih 2 tahun.
Oya, ngomong-ngomong soal pertemuan ayahku dengan ibuku (yang nampaknya cukup penting untuk dibicarakan :D ), pertemuan mereka terjadi di tempat kerja. Ya, mereka bertemu karena pekerjaan yang sama, perawat. Setelah mengikat janji suci pada medio April 1999, sebelas bulanan kemudian lahirlah aku sebagai buah cinta mereka yang pertama pada tannggal 2 Maret 2000.
Setelah selesai melanjutkan studi S1-nya di UI, ayahku terus meningkatkan jenjang pekerjaannya. Hingga di seputaran tahun 2009, ayahku memutuskan hijrah, dengan melepas pekerjaannya di sana. Dimulailah perjalanannya sebagai pengembara (yang sebetulnya baru kusadari sekarang) "lintas dunia".
Ayahku hijrah ke Batam untuk mencari "petualangan"nya sendiri. Aku tidak tahu persis apa yang ayahku lakukan kala hidup di sana. Namun entah bagaimana, pengembaraannya itu membuatnya kenal dengan hal baru dalam hidupnya, yakni pengobatan tradisional khas negeri Tiongkok: akupuntur, ditambah dengan ilmu hipnosis (untuk hal-hal yang baik tentunya, berkaitan dengan penggunaan akupuntur dan pengobatan medis lainnya).
Memang, sih, ada keterkaitan antara akupuntur dengan pengobatan medis kala kini, sehingga justru yang membuatku kagum padanya ialah ketertarikannya untuk belajar akan hal-hal yang baru, yang bahkan mungkin terdengar begitu asing dan melenceng dari jalan hidupnya. Namun ayahku menjalaninya, hingga ia menjadi akupunturis dan hipnoterapis tersertifikasi. Gelarnya di namanya pun bertambah dengan Acp-CI dan CHt-CI (namun sejujurnya ayahku bukanlah seseorang yang gila akan gelar akademis seperti seseorang yang pernah kulihat di sebuah acara televisi).
Selepas perjalanan lintas dunianya belajar ilmu pengobatan tradisional, ayahku kembali ke Pulau Jawa tercinta. Ayahku kembali bekerja di rumah sakit, di sebuah rumah sakit swasta di daerah Kota Bekasi--rumah tinggal keluargaku hingga kini--, dengan tambahan profesi baginya: trainer akupuntur dan hipnoterapis.

Hingga...

Aku duduk di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah. Kini ayahku telah mengembara lagi dengan bekerja ke sebuah rumah sakit swasta di daerah Jakarta Selatan. Aku yang tengah sibuk mempersiapkan diri menjelang ujian nasional dan pendaftaran peserta didik baru MAN Insan Cendekia, punya rutinitas yang--sejujurnya--telah berlangsung sejak aku duduk di bangku kelas 6 SD, yakni menjadi pengojek ayahku ke jalan raya--karena rumah kami letaknya cukup ke dalam dan tak ada akses angkutan umum--. Ada hal menarik yang kutemui lagi dari ayahku: bakatnya menulis.
Sebenarnya ayahku adalah seorang seniman. Kala SMA, ayahku menjadi salah satu anggota grup teater di sana. Berlanjut kala di bangku perkuliahan. Sering pula aku membaca tulisan-tulisan proposalnya yang ia ajukan ke orang-orang dan menurutku tulisannya bagus, sehingga tak heran bila sebenarnya ia mempunyai bakat untuk menulis.
Ayahku mulai mengikuti lomba-lomba menulis yang ia ketahui infonya dari internet ataupun media cetak. Diikutinyalah lomba-lomba itu, meski sayang belum ada yang bisa ia menangkan (yah.. setidaknya pengalamanlah yang dicari). Sampai saat ini, ketika terakhir kali aku bertemu dengan keluargaku saat aku mendapat izin reguler (izin keluar pada hari Minggu bagi murid MAN Insan Cendekia Serpong), nampaklah olehku bahwa Ayah kini sedang menulis sebuah novel untuk sebuah lomba. Ya Allah, berikanlah ayahku keberhasilan sehingga ia bisa makin semangat menulis, aamiin..
Nah, ditambah lagi, beberapa bulan lalu sebelum aku menjadi murid MAN Insan Cendekia Serpong, ayahku ternyata mengikuti lomba casting untuk sebuah novel yang akan difilmkan. Meski sampai sekarang kami belum mengetahui hasilnya, aku berharap ayahku bisa berhasil dan menyumbangkan rasa seni yang ada pada dirinya bagi nusa bangsa.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ayahku masih terus berlari. Dengan langkahnya yang masih tegap bagai tentara dengan semangat berapi-api. Mengejar asa, meraih cita, demi kehidupan keluarganya, yakni ibuku, aku, dan adikku, yang lebih baik, dan semakin baik, baik di dunia maupun di akhirat kelak...

Sekian | Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu
Updated on January 9, 2014 UTC+7 14:38

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)