Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Hai, sobat Zee! Pada kesempatan kali ini, Zee akan sedikit berbagi ilmu dan pandangan tentang keuntungan dan kerugian diplomasi dan konfrontasi yang terjadi pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Seperti yang telah umum diketahui, bahwa Indonesia telah menempuh jalan diplomasi demi mempertahankan eksistensi dan kemerdekaannya di mata dunia. Ada beberapa perjanjian, perundingan, dan konferensi yang disantap dan “dinikmati” oleh negara Indonesia.


Perjanjian pertama kalinya yang diadakan demi mempertahankan negeri beribu pulau itu adalah Perjanjian Linggarjati yang diadakan di Cirebon pada akhir tahun 1946. Pada perjanjian ini, Belanda mengakui secara de facto wilayah Pulau Sumatra, Jawa, dan Madura, sebagai wilayah resmi milik Negara Republik Indonesia (NRI). Namun, lantas wilayah-wilayah lainnya berada di tangan Belanda, dan diperkenankanlah wilayah-wilayah tersebut untuk membentuk negara sendiri. Maka dibentuklah RIS (Republik Indonesia Serikat) sebagai bentuk kerja sama politik antara Indonesia dan Belanda. Dalam hal pengakuan, maka jelas Indonesia diuntungkan, karena akhirnya Indonesia diakui oleh negara Kerajaan Belanda sebagai negara yang merdeka. Namun di sisi lain, perjanjian tersebut jelas menimbulkan kerugian yang besar bagi Indonesia, karena wilayah Indonesia saat itu menyempit.

Dilanjutkan dengan Perundingan Renville, yang isinya adalah RI menyetujui dibentuknya Negara Indonesia Serikat (yang setelah Perjanjian Linggarjati belum terbentuk karena ketidaksetujuan Indonesia), daerah RI yang diduduki Belanda setelah agresi tetap dikuasai Belanda sampai diadakan plebisit (jajak pendapat) pada rakyat, dan RI bersedia menarik semua pasukan TNI di daerah pendudukan Belanda. Lagi-lagi hal ini jelas merugikan kita.....

Sementara di Perundingan Roem-Royen, Indonesia menyatakan bersedia untuk menghentikan perang gerilya, bekerja sama dalam perdamaian, keamanan dan ketertiban, dan berpartisipasi dalam KMB (Konferensi Meja Bundar) di Den Haag, Belanda. Sementara Belanda telah menyepakati untuk mengembalikan Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta, menjamin penghentian gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik, tidak mendirikan atau mengakui negara yang ada di NRI sebelum 19 Desember 1948, menyetujui adanya NRI sebagai bagian dari RIS, dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar KMB segera diselenggarakan.

Dalam perundingan ini, Indonesia tak begitu dirugikan. Malah, setelahnya, pada Konferensi Inter-Indonesia yang juga melibatkan BFO (Bijeenkomse voor Federal Overleg/Badan Permusyawaratan Federal), sepakat untuk bersama-sama melawan Belanda dalam KMB.

Akhirnya KMB pun dilaksanakan. Belanda pun setuju untuk menyerahkan kedaulatannya di Indonesia sepenuhnya kepada NRI. Namun parahnya, Indonesia mesti membayar semua hutang Belanda, terhitung sejak tahun 1942. Maka inilah yang paling merugikan Indonesia dari sekian banyak perundingan yang telah dilakukan antara Indonesia dan Belanda.

Walaupun pada kenyataannya, tentunya pengadaan diplomasi ini memiliki keuntungan terhadap kelangsungan hidup masyarakat Indonesia, karena dapat menghindari banyaknya pertumpahan darah, mempermudah urusan diplomasi Indonesia terhadap negara lain, dan dapat menarik dukungan moral dari negara-negara lain, karena kesediaan Indonesia untuk berunding ketimbang berkonfrontasi secara langsung.

Namun tetap saja terjadi konfrontasi, bahkan Belanda sendiri yang memancing amarah dari masyarakat Indonesia yang sudah mau berunding dan bersepakat dengan poin-poin dalam perundingan tersebut di atas, walaupun memang hal tersebut juga berkontradiksi terhadap sikap masyarakat Indonesia yang tidak seragam. Terjadilah Agresi Belanda I dan II, dan konfrontasi-konfrontasi lainnya.

Secara garis besar, tentu konfrontasi ini berdampak positif bagi kita, karena selain mengobarkan semangat perjuangan yang tiada henti di dalam jiwa sebagian besar masyarakat Indonesia saat itu, juga berhasil memberikan hentakan kepada Belanda dan Sekutu yang ikut-ikutan mengganggu stabilitas negara Indonesia yang baru lahir. Namun tentu saja, kita juga mengalami kerugian, karena lagi-lagi harus ada nyawa yang mati demi mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia...


Yah, marilah kita mengambil pelajaran dari sepenggal sejarah perjuangan para pendahulu kita ini........

Comments

Popular posts from this blog

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)