Gerakan Tiga Puluh September 1965: Ingatan dan Pandangan

Halo sobat, baru seputaran dua minggu lalu kita memperingati, merenungi, dan "memikirkan kembali" apakah itu sebenarnya gerakan 30 September: yang sering disinggung-singgung PKI adalah dalangnya. Doktrinasi tingkat tinggi yang telah dilakukan oleh rezim Soeharto telah mengakar dan masih diteruskan sampai sekarang. Ketika sobat berbicara tentang sejarah, maka lihatlah berbagai sisi: tidak ada yang menjadi dalang G30S.


Apa yang melatarbelakangi terjadinya gerakan ini?
 Gerakan ini bermula ketika adanya isu yang menyeruak bahwa Soekarno tengah jatuh sakit, dan diisukan bahwa akan adanya dua kekuatan besar yang akan menggeser kekuatan Soekarno: PKI dan AD (Angkatan Darat).
Selain itu (salah satu yang menyebabkan PKI selama ini dianggap dalang utama G30S 1965) ada pula sebuah perencanaan yang diusulkan oleh PKI dengan mendirikan angkatan kelima yang terdiri atas buruh dan tani, yang merupakan simbol komunisme sejak awal lahirnya paham ini. Hal itu dilakukan oleh D.N. Aidit selaku petinggi PKI, namun sayangnya usaha yang dilakukannya gagal, karena pemerintah menganggap bahwa belum perlu adanya pendirian gerakan tersebut, sekaligus untuk menghindari guncangan yang semakin kuat dalam struktur kenegaraan yang tentunya menyinggung AD.
Puncaknya adalah adanya isu tentang adanya Dewan Jenderal yang diembuskan oleh PKI, bahwasanya di tubuh petinggi AD sedang dilakukan persiapan kudeta oleh para jenderalnya pada saat ulang tahun ABRI/TNI pada tanggal  5 Oktober 1965.

Sebuah urutan: betapa kacaunya penyelenggaraan gerakan ini
Gerakan fisik/militer ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung Sutopo, Komandan Batalyon atau Resimen Cakrabirawa, yaitu pasukan pengawal presiden Soekarno. Mereka mulai bergerak dengan mengadakan penculikan dan pembunuhan pada tanggal 1 Oktober 1965 waktu dini hari. Enam orang perwira tinggi dan segenap perwira pertama Angkatan Darat diculik ditempat kediamannya masing-masing, lalu kemudian dibunuh secara kejam diluar batas perikemanusiaan di Lubang Buaya, sebuah desa yang terletak di sebelah selatan Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur.

Ada tiga orang jenderal yang dibunuh di kediamannya sendiri karena penolakan yang dilakukan oleh mereka saat ingin "dibawa menemui presiden", yakni Letjend Ahmad Yani, Brigjend D.I. Pandjaitan, dan Mayjend M.T. Haryono. Jenazah dimasukkan ke dalam sebuah lubang sumur tua di desa tersebut. Yang menjadi korban pengkhianatan G.30.S di pusat ialah :
  1. Letnan Jenderal Ahmad Yani
  2. Mayor Jenderal R. Soeprapto
  3. Mayor Jenderal Mas Tridarmo Harjono (M.T. Harjono)
  4. Mayor Jenderal Suwondo Parman
  5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Pandjaitan
  6. Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo
  7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean
  8. Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun
  9. Ade Irma Suryani (anak dari Jenderal A.H. Nasution)
Sedangkan Jenderal Abdul Haris Nasution yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Komparteman Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, yang sebenarnya menjadi sasaran utama dari gerakan 30 S PKI berhasil meloloskan diri dari usaha penculikan dan pembunuhan, dengan melompati dinding pagar Kedutaan Besar Irak.

Ada beberapa keanehan dari gerakan ini, yaitu:
  1. Sesuai rencana awal seharusnya jenderal-jenderal tersebut tidak dibunuh melainkan dipertemukan dengan Presiden Soekarno. Namun tiba-tiba tanpa diketahui siapa yang memberi komando, para jenderal ini kemudian diperlakukan secara tak berperikemanusiaan.
  2. Pada tanggal 1 Oktober, Soekarno pergi ke Halim Perdanakusumah yang merupakan markas gerakan tersebut, dan lantas ketika ada yang melaporkan kepada Soekarno bahwa ada gerakan yang dilakukan oleh orang PKI, Soekarno menyatakan bahwa si pelapor itu fobia komunis.
  3. Mereka tidak mengenali Pierre Tendean yang menyamar menjadi AH Nasution.
  4. Tujuan gerakan ini adalah kudeta, namun anehnya Soekarno masih dianggap sebagai pemimpin.
  5. Tidak diculiknya Soeharto, padahal saat itu Soeharto menjabat sebagai Pangkostrad
Zee menganalisis bahwa dalang dibalik peristiwa ini adalah Soeharto, karena dengan terbunuhnya para jenderal dan adanya kekalutan yang melemahkan posisi Presiden Soekarno saat itu, lantas dapat dengan mudah memuluskan jalannya untuk mengambil alih kekuasaan. Selain itu berdasarkan banyak referensi yang Zee baca, terdapat keterlibatan CIA (dan dalam hal ini Amerika Serikat secara umum) yang mendorong Soeharto menjadi "the next president".
Allaahu a'lamu bi ash-hhawab (Allah Mahatahu yang sebenarnya)...

Sumber: http://www.sejarah-negara.com/2014/02/proses-terjadinya-peristiwa-g30spki.html
Buku Sejarah untuk SMA/MA kelas XI Program IPA, Penerbit ESIS.
Guru Sejarah Indonesia MAN Insan Cendekia Serpong

Menarik untuk dibaca:
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150930_indonesia_waktu_g30s

Sekian. Sampai jumpa di posting berikutnya!

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)