#sedikitrangkaiankata 51: Kucing

Kemarin, ketika Zetta sampai ke rumahnya di daerah Manchester, Inggris, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari Oxford, saat dia baru akan memulai liburannya selama 13 hari, dia disambut oleh sesuatu yang berbeda dan tidak seperti biasanya.

Di depan rumahnya, ia terkaget ketika melihat sebuah bangunan kecil. Bangunan itu terlihat seperti rumah hewan. Lubang masuknya kecil. Rumah itu berwarna putih dengan garis-garis kuning, terlihat seperti replika rumah Zetta. Zetta pun bertanya-tanya dalam benaknya, siapa yang membangun rumah ini? Dan untuk apa?

"Di rumah ada siapa, Dad?" tanya Zetta pada ayahnya, Sir Joe.

"Kebetulan tidak ada siapa-siapa, Zetta. Ibu dan Saed (Sayyid, pelafalannya--pen.) sedang pergi mengajar ke Islamic Center," tukas ayahnya. Mereka adalah salah satu dari beberapa keluarga Muslim yang sedang berjuang dan berdakwah di United Kingdom, tepatnya di Inggris. Mereka asli Inggris. Sir Joe Yusuf menjadi mualaf setahun sebelum menikahi Latifa Nurhasana, yang kini mereka sudah memiliki dua orang anak: Zetta Abdulkareem dan Saed Maulana.

"Oh. Lantas ini apa?"
"Itu rumah kucing."
"Siapa yang memelihara?"
"Saed."

Samar-samar di pendengarannya, Zetta mendengar suara mengeong yang amat menyayat. Suara kucing kecil, yang umurnya belum sampai setahun. Dan kucing kecil itu pun akhirnya keluar dari rumahnya. Kucing berwarna putih dengan bulu yang masih belum rapih. Kucing itu terus mengeong, mengharap sesuatu yang di pikiran Zetta adalah makanan. Mata kucing itu indah: hijau seperti permata, bening seperti Sungai Thames. Dan itu terlihat amat menyejukkan.
***
Cerita Zetta di atas sama dengan ceritaku. Nanti, Zetta akan menemuiku di sini, negeri yang kaya alamnya, luas lautnya, dan banyak gunung berapinya. Tidak perlu kuberitahukan negeri indah apa itu. Mungkin salah satu dari kalian juga tinggal di sana.

Aku juga punya kucing. Kucingku mirip dengan kucing milik Zetta. Hanya saja, kucing liar itu--yang ditangkap oleh adikku--sudah pergi lagi. Aku yang memindahkannya ke suatu tempat sehari yang lalu, saat aku sedang mengisi pulsa untuk kuota internet yang kugunakan untuk memposting cerita singkat ini ke blog ini.
***
Kucing itu tersesat. Rumah bercat kuning-putih yang tadinya adalah rumah tuannya, atau orang yang dianggap tuannya, tidak dapat dia temukan. Pikirannya menggeliat, kacau. Perutnya lapar, sangat. Mulutnya meracau, mengeong tak keruan. Dia sekarang terdampar di depan sebuah bangunan yang ada pintu gulung-(rolling door)-nya.

Kucing itu terus mengeong, penuh pengharapan.

(Terinspirasi oleh tulisanmu, engkau yang berwajah sebening embun.)
Perjalanan Bandung-Bekasi, 22 Desember 2015.

Comments

  1. Guess what,Ziyad. Aku sibuk menerka siapa "engkau yang berwajah sebening embun."

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)