#sedikitrangkaiankata 59: Zikir


Suatu siang di hari terakhir di tahun 2015

Aku yang sedari tadi sudah bersiap-siap akhirnya mulai melangkahkan kaki keluar rumahku tercinta. Seperti biasa, jika aku melakukan perjalanan sendirian (dan jauh), itu artinya aku tidak bisa menggunakan sepeda motor tercinta milik Ibuku: Kirana (merek dari Honda yang kurang gaung karena suksesornya, Karisma).

Keluar komplek kecil tempatku tinggal di daerah Kota Bekasi (dekat perbatasan Jakarta Timur), aku harus menunggu angkutan umum kurang lebih 15-20 menit. Saat itu pukul 11.00. Hari itu hari Kamis, tapi aku tidak melaksanakan puasa sunah yang rutin kulakukan di madrasahku, MAN Insan Cendekia Serpong. Angkutan umum pun datang, dan aku memulai perjalananku yang cukup panjang, menuju tujuanku: Masjid At-Tin TMII.




Aku mengecek isi tas yang kugendong. Ada notes kecil untuk mencatat materi-materi yang akan dibawakan oleh Ibu Neno Warisman, K.H. (rahimahullah) Maftuh Basyuni, KH Arifin Ilham, Yusuf Mansur, K.H. Didin Hafidhudhin, Hidayat Nur Wahid, dan Ustadz Tengku Zulkarnaen. Ada slide Powerpoint, materi pelajaran Biologi Sistem Peredaran Darah--tunggu, untuk apa aku membawanya?--yang harus kupelajari untuk ulangan harian setelah libur semester kali ini. Ada botol air minum; yang ini memang harus. Ada pula beberapa alat tulis... yah, yang lainnya tidak begitu penting.

Perjalanan di angkot kuhabiskan dengan mengamati jalan yang kulewati, jalan menuju daerah Pondok Gede. Seingatku, terakhir kali aku melalui jalan ini adalah sekitar dua setengah tahun yang lalu bersama beberapa orang temanku di MTs. Seperti tidak banyak yang berubah kelihatannya.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, aku pun sampai di depan Masjid At-Tin. Masjid yang megah dengan arsitektur memukau (dalam pandangan seorang awam sepertiku). Ini adalah kali kedua aku kesana. Kali pertama, tanganku patah saat hendak turun dari tangga masjid. Untungnya saat itu aku tidak sendiri. Ayahku langsung tanggap membawaku ke rumah sakit tempatnya bekerja dulu, yang kebetulan cukup dekat dengan masjid.

Ketika aku iseng mengecek teleponku (yang menunjukkan pukul 12.30), ternyata baterenya sudah separuhnya, dan sialnya saat itu aku tidak membawa charger. Otomatis aku tidak bisa berbuat banyak dan harus sangat-sangat hemat baterai.

Usai melaksanakan salat Zuhur berjamaah, aku mengikuti rangkaian acara pertama di acara Dzikir Nasional 2015 itu, yaitu One Day One Juz. Tidak banyak jamaah yang mengikuti acara ini, kemungkinan karena mayoritas orang masih berkutat dengan pekerjaannya (tidak sepertiku yang sedang liburan sekolah). Terhitung hanya sekitar enam puluhan orang, ratusan bila ditambah jamaah perempuan.

Setelah acara ODOJ selesai, aku bergegas turun sembari melihat-lihat stan bazar yang ada, terutama stan Republika Penerbit sebagai anak usaha dari penyelenggara utama acar Dzikir Nasional ini. Tapi ternyata perutku berkata lain. Aku melangkah kemudian menuju foodcourt sederhana di halaman luar masjid, yang berbaur dengan pedagang alat-alat salat dan wewangian. Berderet disana berbagai menu sangat khas Jakarta atau Indonesia (mana ada tukang takoyaki di pinggir jalan?), tapi akhirnya aku putuskan untuk membeli makanan yang terlalu tidak asing di lidahku: nasi goreng.

***
Sejujurnya, awalnya aku ingin membagi tulisan ini menjadi tiga bagian, khawatir terlalu panjang. Tapi karena satu dan banyak lain hal (terutama kesibukan sebagai pelajar) membuatku harus memotong banyak bagian dalam tulisan ini.

Maka, setelah makan siang yang terlambat dan acara Ustadzah Neno Warisman, aku pun segera turun ketika jam menunjukkan pukul 5 sore. Mandi, makan sore (karena praktis nanti malam aku akan sangat sulit keluar masjid) ketoprak, mengambil koran gratisan dari Republika, update status (mumpung ramai), melihat baterai yang semakin tipis, dan sedikit rehat. Aku pun menyempatkan diri untuk membeli dua novel berdiskon. Yang satu judulnya Ranting, Jangan Mudah Patah karya Ericka Citra Sejati dan Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman El Shirazy.

Waktu Maghrib menjelang. Jamaah sudah mulai penuh di dalam lantai satu tempat salat (atau lantai dua masjid). Zikir mulai menggema. Saat itu, aku yang tidak ditemani siapa pun mendapat teman ngobrol seorang bapak-bapak. Bapak itu sempat menyinggung soal IC (MAN IC, madrasah tempatku bersekolah) dan tertarik memasukkan anaknya kesana. Obrolanku dengan Bapak itu pun terhenti ketika waktu Isya' menjelang, dan acara pun segera dimulai setelahnya.

Serangkaian pembicara pun menyambut dan menyuarakan isi pikirannya kepada ribuan jamaah yang membludak di Masjid At-Tin itu. Kabarnya, jamaah Dzikir Nasional tahun ini (2015) itu, walaupun tetap didominasi oleh warga Jabodetabek, juga ada yang datang dari wilayah yang agak jauh seperti Provinsi Banten, atau daerah Karawang dan sekitarnya.

Pembicara pertama adalah KH rahimahullah Maftuh Basyuni, M.A. selaku ketua DK (Dewan Kemakmuran) Masjid At-Tin. Beliau bersama At-Tin yang sudah amat dekat dengan Republika, yang telah bekerjasama selama 14 tahun untuk acara ini, menceritakan sejarah-sejarah singkat mengenai Masjid At-Tin ini.
Berselang kemudian berturut-turut pembicara lain pun menggantikan beliau berdiri di depan. Lukman Hakim Saifuddin, lalu KH Arifin Ilham yang mengisi acara inti yaitu dzikir berjamaah, K.H. Didin Hafidhudhin, Hidayat Nur Wahid, Yusuf Mansur dan terakhir diisi oleh Ustadz Tengku Zulkarnaen dengan gayanya yang nyentrik dan kocak.
Khusus beliau yang terakhir ini, entah mengapa yang paling meninggalkan bekas. Mungkin, salah satu kodrat manusia (ya terutama anak muda sih) adalah senang dengan lawakan-lawakan segar.... Apalagi kalau seluruh pembicara sebelumnya serius (kecuali Ustadz YM [Yusuf Mansur]).

Tak terasa, Ustadz Tengku baru selesai pukul 1 dini hari. Setidaknya, beberapa menit sebelumnya, di luar--tepatnya di daerah berkumpulnya orang-orang untuk merayakan tahun baru masehi--masih terdengar suara kembang api. Kembang api. Kembang api. Aku lebih berpikir kalau itu adalah uang yang dibakar--padahal seharusnya tidak, sayang uang sudah didapat main dibakar saja. Karena sudah terlalu lelah, mataku terpejam... dan sudah harus bangun satu setengah jam kemudian.

***
Pukul setengah tiga, 1 Januari 2016.
Aku terbangun. Melihat sekeliling... orang-orang sudah bersiap-siap untuk acara selanjutnya: salat tahajjud berjamaah. Di speaker masjid juga sudah terdengar imbauan untuk bersiap-siap, karena pukul 3 tepat salat akan dimulai.
Dengan langkah gontai aku pun menyusuri selasar luar lantai 2 masjid bersama ratusan jamaah laki-laki lain untuk pergi ke kamar mandi; mereka yang lain entah hanya cuci-muka-sikat-gigi-wudu atau yang mengambil paket lengkap: mandi. Aku termasuk yang mengambil paket lengkap; badanku sudah terlalu lengket oleh keringat. Dan, lagipula, mana mungkin aku salat tahajud dengan kondisi badan yang tidak bersih?
Sesampainya di lantai satu masjid, jujur, kamar mandinya--yang juga bersama dengan tempat wudu--ramai sekali. (Sayang dalam kondisi sengantuk itu aku tidak sanggup dan tidak sempat mengambil foto--lagian ngapain ya?) Aku sampai harus menunggu beberapa menit untuk masuk ke salah satu kamar mandi. Setelah berhasil dapat satu tempat, aku langsung jebyar-jebyur untuk menghapus penat yang tersisa di sekujur tubuh. Sekalian persiapan untuk salat tahajud.

Salat tahajud hampir dimulai, ketika aku dan lagi-lagi bersama ratusan jamaah yang berdesak-desakan sedang menuju ke lantai dua masjid. Saat itu sudah pukul 3 lewat sekian menit, dan aku langsung masuk jamaah, dapat shaf 4. Imamnya fasih bacaannya--jelaslah, imam masjid agung. Dan, cukup panjang. Sehingga, setelah empat rakaat, banyak jamaah yang sepertinya tidak kuat dan memilih "mundur", keluar barisan ketika selesai per dua rakaat. Walhasil, aku pun bisa mendapatkan shaf yang lebih di depan, bahkan aku berhasil mendapat shaf kedua. Ketika shalat itu, ada pula wartawan yang merekam--sepertinya wartawan Jawa Pos--dengan membawa AVCHD ("kamera TV" itu loh).
Puncaknya adalah ketika salat witir. Di rakaat ketiga, imam membacakan qunut nazilah yang sangat panjang, kurang lebih 3 sampai 4 menit (atau bahkan lebih).

Setelah ibadah salat tahajjud selesai, aku turun ke lantai satu lalu keluar masjid untuk rehat sebelum subuh--karena sudah hampir tidak mungkin aku tidur. Aku memutuskan untuk membeli segelas kopi untuk menyirnakan sisa kantukku.

Salat subuh--setelah sebelumnya salat qabliyah--lalu memanjatkan doa, untuk yang sebaik-baiknya di tahun 2016 nanti.

Jam di HP-ku yang sudah sangat lowbat telah menunjukkan pukul 05.10 saat itu. Setelah meminta seorang bapak untuk memfotoku di depan banner Dzikir Nasional, aku pun bertolak ke luar area masjid. Melihat peci-peci, entah mengapa aku tertarik untuk membelinya--membeli satu peci putih seharga belasan ribu rupiah saja.


Perjalanan berzikirku belumlah usai.

Aku sudah naik angkot 40 menuju rumah. Aku baru ingat kalau aku membawa slide biologi, dan akhirnya aku lanjutkan membacanya. Saat itu, jalanan masih sepi--mungkin semua orang baru saja tidur setelah begadang merayakan tahun baru--sehingga angkot bisa melaju sekencang-kencangnya. Kurang lebih kecepatannya mencapai 70 km/jam. Angin menderu melalui pintu angkot dan jendelanya--aku kembali berzikir.
Nah, sesampainya di Komsen, aku menyadari bahwa... saat itu angkot masih kosong. Saat itu juga aku belum mengenal aplikasi Grab atau Go-Jek seperti sekarang ini (lagipula mungkin semuanya belum beroperasi pagi itu). Aku pun terpaksa jalan kaki, hingga baru menaiki angkot saat sudah menuju "pertigaan di ujung jalan".

Perjalanan kuakhiri dengan membeli nasi uduk untuk sarapanku dan keluarga.

***
Lantas, apa kesimpulannya?

Kawan, ini bukan soal acara Dzikir Nasional. Tapi, ini adalah tentang esensi dari zikir. Bahwa dalam setiap segmen kehidupan, banyak hal yang mestinya kita zikirkan; kita ingat. Tentunya hal-hal baiklah yang harus diingat. Dan sumber dari segala ingatan itu, tak lain tak bukan, adalah Tuhan YME, Allah swt..
Jadi dzikir itu bukan setahun sekali, tapi setiap detik berkali-kali :)

Selesai 366 hari setelahnya. 31 Desember 2016.

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)