#sedikitrangkaiankata 60: Sonic Linguistic



Sonic Linguistic itu apaan sih?
Mungkin buat mayoritas siswa SMP sederajat atau SMA sederajat, terutama yang berdomisili di wilayah Jabodetabek, mengenal Sonlis (sebutan buat Sonic Linguistic) sebagai sebuah ajang lomba--tepatnya banyak lomba--yang diadakan setiap bulan Februari. Cuma itu. Atau lebih-lebihnya, katanya, "lomba-lomba Sonlis itu susah buat dimenangin, kalo kitanya nggak jago-jago amat." Itu udah bagus banget.

Tapi buat saya, Sonlis lebih dari semua itu.

Acara ini baru saya ketahui saat saya udah masuk MAN Insan Cendekia Serpong (ICS). Waktu itu, sekitar bulan Agustus 2014, kakak-kakak (tingkat/kelas) saya yg menjadi panitia Sonlis, berkeliling untuk menanyakan interest kami dalam menjadi panitia Sonlis 2015. Saya sendiri lupa milih apa, kalo gasalah saya milih Publikasi, PLKP, dan Sekretaris (itu ada skala prioritasnya, 1 sampe 3). Cuma karena setelahnya saya dipilih menjadi sekretaris I-Care (acara bakti sosialnya OSIS ICS atau OS-Cendekia), saya pun "tidak mendapat jatah" di Sonlis (ada peraturan tak tertulis yang tidak membolehkan BPH atau Badan Pengurus Harian* suatu acara besar menjadi panitia di acara besar lainnya) dan nantinya, tanggal 18-21 Februari 2015, saya hanya menjadi freelance (pekerja lepas) saja.

Tapi, menjadi freelance saja pun sudah lebih dari cukup.
***
Hari itu, hari Selasa, 17 Februari 2015, malam hari.
Maskot Sonlis 2015 yang bertema "Primordial Age"

Walaupun saya cuma pekerja lepas atau nantinya bahkan bisa dibilang pengangguran, saya turut dalam kegiatan "angkat-mengangkat" meja untuk area bazar. Dari kantin siswa ICS, saya dan tiga atau empat (atau lima -_-) teman saya menggotongnya dengan semangat ke lapangan upacara yang jaraknya cukup membuat tangan dan kaki pegal. Saya juga ikut melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya, tetap yang berkaitan dengan sarana-prasarana (atau angkat-mengangkat, itu intinya).
Saya merasa senang; itulah salah satu cara kami, siswa MAN Insan Cendekia Serpong, melepas penat dari beban akademik yang amat tinggi.

Keesokan harinya hingga tiga hari setelahnya, saya bekerja kesana-kemari. Hari pertama dan kedua, saya menjadi petugas kesehatan (karena saya anak Palang Merah Remaja saat itu) di pojok lapangan bola. Saya pun turut merasakan euforia dan ketegangan pertandingan sepak bola Sonlis. Di hari yang sama, saya juga menjadi LO (Liason Officer; semacam master of ceremony) dalam lomba English Debate.
Lalu, di hari ketiga, saya menjadi juru lapangan yang mengawasi LKBB (Lomba Keterampilan Baris Berbaris). Menyaksikan kekerenan sekolah-sekolah lain yang menjadi peserta Sonlis dalam menyusun formasi baris-berbaris menjadi hiburan yang mengasyikkan, sekaligus menjadi pembayar penat setelah sejak pagi dan malam sebelumnya mempersiapkan banyak hal.
Hari terakhir, momen yang paling membahagiakan saya adalah ketika foto bersama panitia Sonlis lainnya. Bahkan, saya ikut terfoto bersama Project Officer (bahasa kerennya Ketua) Sonlis 2015, M. Izzat Nugraha (kini kuliah di Jepang) yang sudah basah kuyup karena disiram air (sebenarnya ada tradisi, ketua Sonlis akan diceburkan ke kolam sekolah, sayangnya saat itu kolam sekolah belum ada isi airnya).

Semua itu membahagiakan, dan kami amat menunggu merasakannya kembali tahun depan.
***
Inilah yang makin membuat saya merasa bahwa Sonlis "lebih dari itu", bahkan menjadi salah satu pengalaman paling berharga selama saya bersekolah di MAN ICS.


Tahun 2016. Medio Februari.
Sonic Linguistic tahun itu dilaksanakan tanggal 17-20. Saya bukan freelance lagi sekarang, tapi sudah menjadi salah satu bagian dari panitia resmi.

Saya (pada masa itu) merupakan wakil ketua dari sebuah acara bakti sosial tahunan di ICS yang bernama I-Care (sila klik pranala di samping untuk cerita saya tentang acara itu). Karena hal tersebut, saya ditugaskan untuk menjadi tim pengamanan dan informasi pada Sonlis, yang biasa disebut ranger. Hm, serasa punya kekuatan ya *okeabaikan*

Menjadi seorang ranger tidaklah mudah. Kami harus sanggup melawan kejahatan menerima semua pertanyaan yang diajukan oleh para peserta yang berjumlah ribuan orang (asli, banyak banget). Selain itu, kami juga diharuskan membantu para peserta yang mengalami kesulitan hampir dalam hal apa pun; biasanya sih yang celingak-celinguk cari venue lomba atau yang kebingungan mencari panitia lain.
Nah, selain menjadi ranger, saya pribadi juga ada agenda lain; mengatur tim paduan suara (kebetulan saya didapuk menjadi wakil koordinator merangkap koordinator), mempersiapkan penampilan tim akapela Putih, dan menjaga stan bazar untuk I-Care. Jujur, semua itu (karena cukup banyak) membuat saya lelah. Tapi setelahnya, bahagia luar biasa.

H-1 Sonlis 2016, pukul 23
GSG (Gedung Serba Guna) masih ramai. Ada belasan siswa ICS dari kelas XI dan kelas X yang masih antusias mendekorasi gedung dengan sedemikian rupa untuk upacara pembukaan Sonlis keesokan hari. Sementara itu, saya dan Ashari masih sibuk berkutat dengan rekaman lagu tema Sonlis 2016. Ashari asyik dengan laptop Aspire One Happy-nya yang berwarna merah jambu.
Ketika itu lagu masih dalam proses, sementara mata saya sudah sepat. Tak terasa waktu sudah beda hari; sudah pukul 1. Karena masih ada yang harus dikerjakan nanti, saya memutuskan rehat sejenak. Sejam kemudian saya terbangun dan kami pun melanjutkan proses rekaman lagu. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya lagu tema Sonlis 2016 pun selesai dibuat.
Dan jam di laptop sudah menunjukkan pukul setengah empat. Asli, sebentar lagi Subuh. Daripada bablas, saya lebih memilih tidak tidur. Ketika azan akan berkumandang (masih setengah jam lagi, sih._.), saya membangunkan anak-anak dekorasi dan PLKP yang tertidur karena lelah.
H1 Sonlis
Pukul 7. Saya sudah siap dengan baju batik kondangan berwarna merah untuk tampil paduan suara. Saat itu hujan rintik-rintik. Beruntung saya diberi kesempatan untuk menggunakan sepeda (karena saya ranger) sehingga saya dapat lebih bergegas mennuju GSG. Saya jugalah (bersama Azzam, Dhana, Himmaty, Akbar, dan Ridha) yang mengatur sirkulasi penggunaan sepeda-sepeda panitia itu.
Acara upacara pembukaan agak terlambat dimulai karena anak-anak saman yang lama berdandan. Berjalan sesuai dengan harapan, setelah acara upacara usai kami pun kembali ke tugas kami masing-masing.

H2
Kok jadi ranger kayak gini, ya?
Saya ketiduran sejak bada Subuh (tepatnya pukul setengah tujuh, sih) dan baru terbangun sekitar pukull 10.30 lalu langsung menuju GSG. Tapi, ternyata tidak begitu banyak pekerjaan ranger yang tidak terpenuhi (maksud saya, saking tidak ada yang bisa dilakukan). Anak-anak BPH I-Care memang sudah ada fokus lain: menjaga stan bazar. Saya ikut membeli beberapa jajanan di sana; lumayan buat ganjal perut.
Ada yang aneh. Jarang orang (peserta) yang berkunjung ke tempat ranger (we call it "Information Center"). Bahkan jelang Asar pun, Ridha yang seharusnya selalu steady di tempat kami malah tiada; kemungkinan tertidur di asrama. Saya pun bingung, "Ini kok kenapa ya?" kata saya pada diri sendiri.
Ternyata.....
Ada Information Center lain. Letaknya tepat di tengah-tengah lapangan upacara.
Jujur, saya tersinggung. Anak-anak BPH lain sudah tahu keluhan saya ini dan mereka pun mengiyakan. Alhamdulillah, kami masih ada pekerjaan lain yaitu berjualan di stan bazar (bersama Amal, Nisa, dan Dini juga).

H3
Tidak ada yang istimewa.
Tapi, ada Pak Yus (guru PKN kami tercinta) yang berkunjung ke stan bazar jelang Jumatan. Beliau memborong beberapa jajanan di sana. Kami sedikit mengobrol tentang adanya persinggungan tidak enak antara dua acara besar di madrasah kami ini.
Apa itu? Yaitu adanya perbedaan penyikapan dalam OSIS antara kedua acara ini. Seakan-akan muncul pencitraan besar-besaran terhadap Sonlis dan I-Care seakan-akan dianaktirikan. Kami mengiyakan. Bagaimanapun, kami sebagai pengurus OSIS (tanpa memperhatikan jabatan lain dalam acara Sonlis atau I-Care) sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan tabir yang seakan membuat orang menomorsatukan Sonlis namun kurang peduli terhadap I-Care. (sila koreksi kesalahan saya di komentar)
Yah, kami (BPH I-Care plus panitia khusus bazar) tetap bersyukur karena dapat berjualan dengan maksimal untuk mengakomodasi dana acara baksos tersebut.

H4
Saya lebih memfokuskan diri untuk mempersiapkan Putih. Awalnya, kami (saya, Ferry, Ridha, Nahrul dan Hanif) akan membawakan lagu "Kekasih Halal" dari Wali. Eh, kami tidak berani HAHAHA, sehingga kami memutuskan untuk membawakan lagu "Jangan Mepet-Mepet" dari Justice Voice.

Alhamdulillah, selesai!!!

Terlepas dari berbagai gesekan dan rintangan yang saya hadapi bersama kawan2 ranger atau seluruh panitia Sonlis 2016, kami sangat bersyukur karena acara ini selalu memberikan kesan mendalam, terutama bagi kami, para committee dari Sonlis 2016. Terima kasih kepada Akbar Indria Wicaksono sebagai sang project officer. Keren, Bar! :)

Tim saman angkatan 21. Di depan: para mentor (Irma, Adra, dan Tita).
Bonus: para BPH I-Care 2016 berfoto saat upacara penutupan Sonlis 2017 kemarin.
*Badan Pengurus Harian adalah panitia inti yang terdiri atas ketua, wakil ketua (opsional), sekretaris dan bendahara. Di ICS, struktur ini dapat dimodifikasi dengan menambahkan beberapa bagian lagi, seperti (misal) organisator acara (Event Organizer; EO), manajer acara (Event Manager; EM), dan tim kreatif.

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)