#sedikitrangkaiankata 67: Nasyid: Nasyid, Nasyid! (molekul 1 dari 3)

Kawan, seriously, saya (dan empat kawan hebat saya itu) tak pernah kepikiran sebelumnya untuk mempelopori kembalinya nasyid di madrasah aliyah tempat kami belajar dulu!😁

Ini adalah cerita tentang perjuangan kami berlima (atau malah bertujuh, sih, haha) dalam menapaki dunia musik amatiran di madrasah sendiri. Tentang begadang demi mempersiapkan penampilan keesokan hari. Tentang Nahrul yang pernah mengigau. Tentang Ferry si personel dengan suara gigabas. Tentang Ridha si vokalis dengan kapabilitas tak-pernah-malu-saat-di-depan-panggung. Dan tentang Hanif si tenor yang saat ini mengalami "delay-kuliah" hahaha.

Suatu malam tanggal 16 Mei 2015.

Tahu-tahu saja, Ridha, Hanif dan Nahrul (selanjutnya dipanggil Tapo), datang ke kamarku yang sumpek karena isinya lima orang di lantai 3 Gedung I (gedung asrama putra kelas XI dan X) (ya iyalah, kan semuanya dulu di lantai 3, Mas ._.), tepatnya di kamar 302 I.

"Eh, Ziyad Geboy, bikin grup nasyid, yuk!" sahut Ridha.
"Hah? Buat apaan? Hm, boleh sih (ini padahal belum tahu buat apa ._. ---saya)," kata saya.
"Itu, lho, buat acara mabit si Zhofir," Ridha ngomong lagi.
"Lha..... bukannya besok?!" aku kaget.
"Iya, sih, hehe. Tapi gapapa kita coba aja dulu😊," Hanif menimpali.

Itulah sedikit obrolan yang ternyata menjadi tonggak bagi berdirinya sebuah grup akapela di Icehs (oke, biar enak sekarang saya akan menyebut madrasah aliyah tempat saya belajar dulu dengan sebutan itu HEHEHEHEHE).
Di antara kami berempat, memang (patut disyukuri) sudah ada dua orang yang punya pengalaman bernasyid, yaitu Hanif Saifurrahman (ini naks UI yang sebenarnya sudah diterima di Tohoku University, Sendai, Japan) dan Tapo. Dulu ketika di SMP masing-masing mereka sudah pernah jadi personel tim nasyid. Sementara saya dan Ridha........ ya apalah kami mah.

But everything is going right and well, really.

Awalnya kami akan menampilkan lagu Pagi Yang Cerah dari Snada. Hanya saja, suara saya TAK SAMPAI untuk menyanyikan lagu itu (ya, saat itu saya diminta jadi vokalis). Hanif yang saat itu memegang posisi tenor, Tapo... (...dulu pas pertama2 apa, ya? Asli lupa ._.) yg beatbox (eee bariton kali ya dan Ridha yang bas (sumpah, apa banget) pun merembukkan lagu lain bersama saya. Ada usulan lagu Paradise dari Maher Zain. Tapi aransemennya masih cenderung sulit kami gubah (asyique, baru bikin tim langsung gubah-gubah aransemen wqwq), sehingga akhirnya pilihan kami jatuh pada lagu Open Your Eyes dari penyanyi yg sama.

Nah,
ini nih. Keesokan harinya, sepulang madrasah yang ketika itu KBM-nya diadakan di gedung F (asrama saya setahun ke belakang), saya dan Ridha kebingungan mencari Hanif untuk diajak latihan. Ternyata, setelah kami telusuri, Hanif sedang nemplok di kasurnya yang ada di atas di kamar 310 I. Katanya, "aku sakit nih."
Oh, Allah.

Akhirnya dengan kondisi seperti itu, saya, Ridha, dan Tapo, tampil hanya bertiga. Sebenarnya ini pas juga sih dengan jumlah mikrofon yang ada di Masjid Ulil Albab ehehe. Tapi akapela bertiga apa rasanya? Saya vokal, Ridha bas (Dho, kamu apa banget, Dho 😑) dan Tapo tenor. Sungguh lucu.
Tapi, alhamdulillah, kami direspon positif oleh masyarakat Icehs.

Dan kami pun mendaulatkan nama "Degradasi"---plesetannya Gradasi hihi. JANGAN DISALAHARTIKAN YA. Kami tidak mengartikan itu secara harafiah kok.

Dan perjalanan kami berempat (lha, Ferry mana?) baru dimulai.

(bersambung ke molekul selanjutnya)

Comments

  1. Uhuy Mujahadah nih
    Eh iya kan ya? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mbahana.
      Anak divisi imtaq mah ingat aja ya hehe

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)