#sedikitrangkaiankata 68: Nasyid: Kami Putih! (molekul 2)

(sambungan dari cerita itu)

Gimana Ferry bisa tiba-tiba masuk Degradasi?

Alasannya simpel, yaitu karena Ridha tidak cocok pada posisinya saat itu (yaitu BAS). Dan inilah posisi personel setelah kedatangan Ferry

Ferry Firmansyah Putra (mas-mas calon raja minyak, kuliah di ITB): Bas
saya sendiri: Bariton (rentang antara bas dan tenor)
Muhammad Ajrurridha: Vokalis, Tenor (capaian rentang nada tertinggi bagi laki-laki) 2
Hanif Saifurrahman: Tenor 1
Nahrul Mubarok aka Tapo: Beatbox




Setelah 'perekrutan' Ferry, kami berencana untuk tampil pada acara mabit selanjutnya yang diketuai oleh Ridha sendiri. Tidak ada persiapan khusus yang kami lakukan. Saat itu liburan Ramadan kami lewati lalu PTS (Pekan Taaruf Siswa; MOS/Ospek Icehs, sekarang bernama Matsama yg adalah kependekan dari Masa Taaruf Peserta Didik Madrasah) yang sebagian kami jadi panitia pun kami lalui. Sampailah kami pada mabit selanjutnya (kalau mabit kemarin dalam rangka memperingati Isra' Miraj yg dilakukan Nabi saw., yang sekarang adalah mabit pergantian tahun dalam penanggalan Hijriyah) yang terlaksana pada ..... .

Saat itulah kami memulai debut kami yang sebenarnya.

Kami akan membawakan lagu Jagalah Hati dari Snada dan Kun Anta dari Humood Alkhudher (temennya Maher Zain). Lagu pertama adalah lagu yang sangat klasik, sementara lagu kedua saat itu sedang tren di masyarakat Indonesia. Kami bersiap untuk membawakan lagu tersebut selama setidaknya seminggu (inilah momen pertama kami intens berlatih) dengan bantuan dari Kak Fai (sekarang kuliah di Nagoya University, Jepang) walau cuma sekali pertemuan sih hehe. But it's really inspiring us (especially myself) to keep increasing our capacity on a capella in the future.

Tak tanggung-tanggung, kami berlima yang masih pemula itu menggubah aransemen kedua lagu tersebut. Setelah kami susun sedemikian bentuk, dua lagu itu berhasil menjadi medley (jadi bukan lagu terpisah melainkan satu lagu hasil rangkaian). Setelah seminggu latihan, kami merasa cukup percaya diri dan siap untuk membawakan lagu ini.

And we made it! Respon kawan-kawan kami (baik yang seangkatan, adik kelas, maupun kakak kelas) luar biasa. Kami yang saat itu hanya memakai kostum seadanya (jujur, kami memang selalu tampil 'seadanya' 😆) tetap percaya diri untuk tampil. Alhamdulillah, penampilan kami diiringi riuh tepukan tangan dan apresiasi yang baik dari para hadirin di acara mabit tersebut.

-------------------------------------------------------

Seusai mabit, ada rentang yang cukup jauh sebelum kami kembali unjuk gigi. Ada acara Seminar Nasional Karya Ilmiah yang diadakan oleh dewan guru madrasah dan kami diminta tampil untuk membawakan kembali lagu Kun Anta. Tak lama setelahnya, kami kembali tampil untuk acara Civitas Day. Kami tidak sepenuhnya membawakan lagu bernapas islami kali ini, tapi membawakan lagu Cheerleader dari OMI (yang digubah Pentatonix menjadi akapela) dan dikolaborasikan dengan lagu This Worldly Life dari Maher Zain (sedihnya, penampilan kami ini tidak ada rekamannya 😞). Naaah pada saat itu jumlah personel Putih bertambah satu orang, yaitu Virdi Lagaida Umam (anak HI UI) untuk menggantikan posisi Ferry sebagai bas, untuk sementara.

Sekembalinya Ferry, sebuah lomba band diadakan oleh divisi seni dan budaya OS-Cendekia. Merasa tertantang karena hal tersebut, kami yang kebetulan bukan grup band mencoba untuk ikut lomba tersebut. Eh, kami ternyata malah jadi juara pertama!

-------------------------------------------------------

Lomba tersebut bernama Clip Art. Pada lomba tersebut (setelah diizinkan untuk ikut walaupun bukan band) kami adalah satu-satunya tim akapela. Rasanya memang berat dan hampir tidak mungkin. Di antara kami berempat, hanya Hanif dan Ferry yang memiliki kemampuan lebih dalam memainkan alat musik (aku mah apaan cuma bisa main pianika .____.). Ya toh kami memang tidak pakai alat musik sama sekali, dan itulah yang menjadi tantangan kami. Kira-kira, bisa gak ya kami masuk final lomba band itu?

Diadakan di gedung teater Icehs untuk kemudian pindah ke GSG (karena suatu kejadian), ada kurang lebih 11 band yang bertanding memperebutkan enam golden ticket menuju babak final. Pada babak penyisihan, kami membawakan lagu Neo Shalawat dari Snada yang kami siapkan kurang lebih seminggu setelah upacara pembukaan.

Pada upacara pembukaan, sebenarnya kami sudah tampil. Kami saat itu tampil dengan formasi baru lagi. Hanif tidak bisa tampil karena mengikuti kegiatan lain di luar Icehs. Akhirnya kami merekrut Muhammad Zhofir (guru ngaji yang sekarang jadi anak ITS). Dengan perjuangan yang luar biasa, kami dapat tampil membawakan lagu Kicir-Kicir, lagu DKI Jakarta. (Sosok Zhofir ini sangat noted di hati kami, para personel Degradasi)

Nah, pada kesempatan ini, kami mendeklarasikan nama baru, yaitu "Putih"!

Putih sendiri merupakan kependekan dari "Punya Talenta Lebih" (apa banget ya? .-.) dan ada kepanjangan lainnya juga (cuma kok saya lupa ya 😂). Selain dimaknai secara konotatif, Putih ini juga dapat dimaknai secara kontekstual atau harafiah, yaitu (mungkin) "baik, bersih, dan menyejukkan" (halah). Nama itu juga secara positif memperbaiki nama kami sebelumnya, hehehehehe.

Kembali ke babak penyisihan. Atas izin Allah, kami dapat menampilkan hasil terbaik dan membawa kami ke babak final. Nilai kami di babak penyisihan hanya terpaut sekian poin dengan tim dengan nilai tertinggi. Kami pun kembali berjuang untuk mempersiapkan penampilan kami di babak final.

Di babak final, kami kembali ke formasi utama. Kami mempersiapkan lagu tambahan untuk dibawakan. Lagu tambahan tersebut adalah lagu daerah, yaitu medley lagu Kicir-Kicir dan lagu Manuk Dadali. Saingan kami berat: band dengan nilai tertinggi dan empat band lainnya yang luar biasa. Kami tak menyerah. Dengan persiapan kurang lebih dua---tiga (hah? ._. Inilah kebiasaan kami yang unik. Ya mungkin karena hampir semua dari kami sibuk dalam urusan lain) hari, kami berhasil tampil menjadi juara pertama!

-------------------------------------------------

Bagian paling membekas dari kami berlima (tepatnya yang ini hanya tiga orang dari tim utama; saya, Ferry, dan Ridha) adalah yang akan saya ceritakan ini.

Bermodalkan keyakinan menjadi juara pertama, kami percaya diri untuk ikut lomba di luar Icehs.

Suatu masa setelah pertemuan FLP (Forum Lingkar Pena) Icehs, tersisa saya, Nadhira, dan Hana. Saat itu, Hana sedang melihat pendaftaran lomba yang diadakan oleh pesantren tempatnya dulu menimba ilmu di jenjang menengah pertama. Ajang lomba yang sebelas-dua-belas dengan Sonlis itu memiliki salah satu mata lomba seni, yaitu nasyid. Nadhira yang nimbrung dengan Hana nyeletuk menawarkan kepada saya, "Ziyad, mau ikut lomba (dia menyebutkan nama lomba tsb---Saya) gak? Mumpung Hana lagi daftar, biar sekalian." Setelah saya mengetahui besar biaya pendaftaran (dan kebetulan bisa dibayar di tempat [OTS; On The Spot]), apalagi setelah kami (Putih) masih memiliki uang hasil jerih kami bertanding di lomba internal Icehs yang lalu, saya beranikan diri untuk mendaftar.

Sayangnya, kami tidak bisa pergi lomba dengan formasi utama. Hanif sedang akan fokus mempersiapkan diri menapaki OSK (Olimpiade Sains Kota) Tangsel, sementara Tapo akan mengikuti lomba matematika di sebuah PT. Karena tak ingin melewatkan kesempatan berharga ini, kami (sisa tiga orang) putar otak dan memutuskan menggaet Zhofir kembali dan menambah satu orang sebagai personel kami, yaitu Fikri Yathir. Genaplah kami berjumlah delapan orang!

Formasi terbaru ini langsung kami siapkan untuk berlatih CUKUP KERAS. Hm, tapi cukup keras seperti apa, ya? Dalam versi kami, cukup keras berarti latihan mepet-mepet! Kami baru latihan pada dua hari sebelum lomba dilaksanakan. Bayangkan, dua hari! (Kami memang agak telat mengetahui info lomba tsb)
Dengan modal kepercayaan diri dan semangat dari kami berlima, walaupun saya, Ridha dan Ferry sudah melatih Zhofir dengan amat sangat luar biasa susah payah (maaf ya, Pak Guru 😆), akhirnya kami bersama Yathir berangkat menuju venue lomba di daerah Kabupaten Bogor.

Kami membawakan lagu "Bismillah" dari Awan Voice. Sebenarnya, lagu ini memiliki tingkat kesulitan aransemen yang tinggi. Tapi kami tetap semangat menyalinnya dalam otak kami masing-masing, untuk kami unjukkan kepada lomba tersebut.

---------------------------------------------------------

Singkat cerita, kami kalah.
Kekalahan yang cukup telak, sebenarnya. Tapi kami tak begitu menyesalinya, karena kami sadar bahwa persiapan kami belumlah maksimal. Kami tetap bersyukur karena saya, Ridha, Zhofir, dan Yathir (dan Hafidz---ini "penumpang gelap" yang cuma pengen dateng ke pesantrennya dulu, tempat Putih berlomba) dapat bersilaturahim ke rumah Ferry dan dijamu dengan sangat baik oleh kedua orang tua Ferry (terimakasih, Pak dan Bu! 😊)

Yang membekas sangat di hati kami adalah komentar dari dewan juri terhadap penampilan kami yang jauh dari kata sempurna. Ada tiga orang dewan juri, salah satunya adalah personel Snada, yaitu Kang Teddy. Kang Teddy ini sudah pernah bertemu dengan kami sebelumnya pada acara I-Fun 1436 H di Icehs, dan bahkan formasi utama Putih sudah pernah dimentori secara singkat oleh beliau dan para personel Snada lainnya. Sayangnya, kami kena semprot atas penampilan kami di lomba itu.

Begini kurang lebih pernyataan salah seorang juri,
"Kalian ini sudah bagus sebenarnya. Sayangnya ada yang kurang: aransemennya!" (lantas kemudian seluruh hadirin [dan kami juga sih, tapi karena malu] tertawa) Ini kata Kang Teddy,
"Oya, kamu (menunjuk saya), tadi kamu membunyikan instrumen apa? Kok seperti gitar bocor ya HAHAHA." (bagian ini membuat saya sangat malu)


---------------------------------------------------------
Ini Biru.
Yah, itulah pengalaman yang sangat berharga bagi kami berlima.

Namun, perjuangan kami belumlah berakhir.

Tak jauh dari lomba itu, kami yang kembali ke formasi utama kembali unjuk gigi dalam upacara penutupan Sonlis 2016. Setelahnya, dengan jeda cukup lama, kami tampil dalam lomba internal Icehs, yaitu lomba nasyid di I-Fun 1437 H.


Pada ajang lomba ini, karena menggunakan nama angkatan, dan setiap angkatan harus mengirimkan perwakilan terpisah laki-laki dan perempuan, saya iseng membuat satu tim akapela baru yang terdiri atas lima orang akhwat, yang terdiri dari

Lya, Dhina, Tita Ulinnuha, Dian, Adra
Ardhina Mulya Lalita (sekarang menjadi mahasiswa Ritsumeikan APU): Alto (bas-nya perempuan)

Adra Amalia Nur Ahlina (satu universitas dengan saya, Departemen Biologi FMIPA): Mesosoprano (suara "tengah-tengah"), Vokalis 2

Arifatul Ulya Hasnawati (anak Undip): Vokalis, Mesosoprano 2

Iftitahul Lu'ayyi Lalala Li Ulinnuha (anak FTI ITB): Soprano (suara tinggiii)

Diandari Siti Nur Ichsani: Beatbox

Tim yang diberi nama Biru ini berhasil menjadi juara satu! Alhamdulillah...

--------------------------------------------------------

Selesai tampil, saya langsung keluar dari teater dengan ekspresi kesal, diikuti dengan kawan-kawan personel utama Putih lainnya. Setelah menemukan sebuah bangku, saya menendangnya karena merasa kecewa dan lalu kemudian terduduk di lantai depan ruang guru.

Sejenak suasana hening tercipta.

(bersambung ke molekul selanjutnya)

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)