#sedikitrangkaiankata 69: Ramadan Tahun Ini

Sore ini, saya termenung di halaman belakang rumah. Sebelumnya saya sedang mengambil pakaian yang terjatuh dari tiang-tiang jemuran. Tak tahu kenapa, sontak saya menengok ke atas, melihat awan.

Menatap langit.

Rasanya, langit tak pernah berubah saat saya melihatnya. Walau, posisi awan tak akan pernah sama di sana karena akan selalu berubah mengikuti rotasi bumi dan terpengaruh oleh siklus air. Namun, rasa-rasanya saya pernah melihat langit yang sama persis seperti ini beberapa hari lalu. Belasan hari.

Saat itu masih bulan Ramadan.

Suatu sore, memasuki fase sepuluh hari kedua di bulan penuh rahmat.

Di halaman belakang rumah, saya termenung. Melihat kembali buku catatan kecil saya yang berisi 'target pencapaian bulan Ramadan'. Alhamdulillah, beberapa telah terpenuhi. Namun masih lebih banyak yang belum. Saya selalu berharap kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk menyelesaikan target-target tersebut. Apalagi, bulan Ramadan ini sedikit terasa lebih istimewa karena sepenuhnya saya habiskan di rumah tercinta.

(Dalam hati saya meringisi menahan rindu terhadap madrasah aliyah tempat saya menimba kebajikan dulu. Sungguh, tiga Ramadan yang begitu menggugah kalbu. Tapi tentu tahun ini saya berharap agar dapat lebih baik lagi)

Tak sadar, saya menitikkan air mata ketika melihat sebuah video yang diunggah di sebuah akun media sosial di ponsel. Video tersebut menceritakan kisah perjalanan dua orang anak pesantren yang mengalami disabilitas fisik, yang hendak pulang kampung menemui ibunya yang sudah meninggal di tempat peristirahatan terakhir. Entah mengapa akhir-akhir ini saya mudah tersentuh oleh hal-hal mengharukan. Kemudian saya menatap langit, Tidak menyilaukan cahayanya, namun tidak pula redup. Jingga yang teduh. Saya berpikir apa jadinya jika saya berada pada posisi mereka.

Saya lihat penanda waktu di pojok kanan atas ponsel. Sudah menjelang Maghrib. Saya terpekur sambil menyiapkan santapan berbuka bagi ibu dan adik saya---ayah belum pulang, masih di jalan. Melihat apa saja yang sudah saya lakukan pada bulan Ramadan tahun ini. Sedih betul ketika saya sadar bahwa di bulan-Nya yang suci ini masih sempat bagi saya untuk melakukan tindakan tak terpuji; maksiat. Dalam banyak bentuk. Saya menyesali dengan sangat. Betapa ketika setan sudah dibelenggu oleh-Nya di bulan ini, saya gagal memerangi hawa nafsu dan kembali bermaksiat. Sungguh lemah.

Maka ketika selesai santap berbuka, saya bersegera untuk menunaikan salat Magrib berjamaah di masjid. Memohon ampunan-Nya. Meminta diberi kekuatan untuk dapat melalui fase maghifirah ini dengan sebaik-baiknya.

*

Fase ketiga di bulan Ramadan: sepuluh malam terakhir.

Saat itu pukul lima sore. Saya panik setengah mati ketika mengetahui bahwa dalam perjalanan saya menuju Masjid Istiqlal sore itu, saya lupa membawa alat mandi. Selain itu, Ihsan Fauzan (kini mahasiswa ITB) yang akan bersama saya malam ini telah meminta saya untuk membelikan minuman.

Walhasil, di hari kedua puluh menjelang dua puluh satu itu, ketika saya kembali menemui langit yang seakan sama (walau nampak lebih redup), saya berlari sekuat mungkin untuk mencari warung terdekat; padahal di daerah itu hampir tidak ada warung untuk dikunjungi. Saya keluar dari area Masjid Istiqlal, sambil teringat bahwa ternyata uang di dompet tua saya tidaklah cukup jika harus membeli alat mandi lengkap. Dan bahkan uang di rekening tabungan saya sudah habis. Saya tidak terpikir untuk menghubungi orang tua; itu menyulitkan beliau saja. Saya putar otak sambil berlari kelelahan, dan waktu di jam tangan saya sebentar lagi menunjukkan pukul setengah enam sore.

Setelah berlari menyusuri JPO Juanda, saya baru menyadari bahwa warung terdekat; harapan terbesar saya, ternyata tidak dapat saya kunjungi karena SAYA TERHALANG PAGAR PEMBATAS antara pedestrian dan jalan raya. Ketika saya amati jauh ke depan, saya tidak habis pikir karena pagar itu seakan tidak ada celahnya (mungkin saat itu saya juga sudah kadung lelah sehingga kurang fokus). Saya baru ingat bahwa di Stasiun Juanda ada toko retail kecil. "Alhamdulillah," batin saya dalam hati. Akhirnya dengan uang seadanya (saya hampir dapat memastikan bahwa saya mungkin sangat mengharapkan sahur gratis esok pagi, karena sisa uang di dompet sangat sedikit) saya beli alat mandi secukupnya dan membelikan minum untuk Ihsan; dan juga untuk saya.

Dalam langkah yang kembali terburu-buru karena waktu Maghrib akan menjelang, saya merenung sesaat sambil kembali menatap langit secara tak langsung. Apakah mungkin ini adalah teguran dari Allah karena maksiat yang tetap saja secara khilaf saya perbuat? Mungkin saja. Seakan menampar diri sendiri, saya habiskan tenaga untuk berlari dan kembali memasuki Masjid Istiqlal yang luar biasa megah.

Alhamdulillah, saya tepat waktu. Ketika memasuki lantai utama masjid, sudah berkumpul di sana ribuan jamaah yang hendak bersantap untuk buka puasa. Bersama para jamaah lain yang baru datang, saya bergegas untuk mengambil posisi duduk bersila pada teras masjid yang kapasitasnya 'gigaluas' itu. Ada beberapa bapak-bapak yang bertugas membagikan makanan ifthar, dan saya alhamdulillah kebagian (walau kebagiannya hanya nasi bungkus sementara banyak jamaah lainnya kebagian nasi kotak padang). Tak lama, setelah mengontak Ihsan, saya akhirnya dapat bertemu dengannya (setelah terakhir bertemu sekitar dua minggu sebelumnya di madrasah).

Kami melalui rangkaian peribadatan hingga malam semakin pekat. Saya larut dalam tilawah demi memenuhi target yang sudah kedodoran (saya menyalahkan adanya agenda buka puasa bersama; sungguh ironis) sementara Ihsan tenggelam dalam murajaahnya. Tak habis pikir bagi saya untuk tidur (sebenarnya sih karena saya juga sedang menunggu ponsel yang sedang dicas hingga penuh) walau mata sudah amat berat. Apalagi, waktu ternyata telah menunjukkan pukul dua belas malam, padahal satu jam lagi akan dimulai rangkaian ibadah salat qiyamu al-lail.

"Ah, sudahlah, tidur pun terlalu tanggung," ujar saya dalam hati. Demi menghilangkan kantuk, saya pun berjalan-jalan sebentar untuk menelusuri area masjid terbesar se-Asia Tenggara itu (sekaligus menangkap foto).

*

Dalam rasa kantuk yang menggeliat, saya mendengarkan ceramah (diistilahkan sebagai mau'izatu al-hasanah) yang dibawakan oleh salah satu imam Masjid Istiqlal. Beliau menjelaskan tentang hal yang seharusnya kita harapkan saat beribadah kepada Allah. Menurut beliau, setelah menukil beberapa hadis yang saya lupa redaksinya, beribadah itu seharusnya mengharapkan peningkatan kedekatan antara kita sebagai hamba dengan Allah sebagai ilah.

Setelah khutbah, saya, Ihsan dan ribuan jamaah mengikuti qiyamu al-lail dengan sekuat tenaga, lalu undur diri ketika akan salat witir. Ketika itu sudah pukul setengah empat dan mata saya terlalu tak kuat untuk bertahan. Saya pun memutuskan untuk tidur walau hanya setengah jam; pukul empat saya dan Ihsan akan bersantap sahur (dan saya amat berharap sahur gratis kala itu, hehe).

*

Sore ini, lantunan salawat telah terdengar dari pengeras suara masjid di depan rumah saya. Saya baru ingat saya belum mandi sore dan belum makan. Saya akhiri tulisan ini sambil terus merenung. Diiringi rasa syukur. Diisi pula dengan harap dan doa.

Agar tahun depan, saya, keluarga saya, dan kawan-kawan saya masih diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadan selanjutnya.

Alaa bidzikrillahi tathmainnu al-quluub. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ayat dan terjemah Surat Ar-Ra'd [13]:28)

---Adzan telah berkumandang. 5 Syawal 1438 H, 17.52 UTC+7---

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)