#sedikitrangkaiankata 71: Hijab 2 Meter

Menjadi siswa di madrasah aliyah itu membuat saya sadar tentang menjaga diri atau 'iffah. Untuk menjadi jaim (bagi sebagian orang) agar lebih terlindungi dari kemudaratan. Untuk menjadi paham akan arti 'membuat jarak' terhadap lawan jenis yang bukan mahram saya; bahkan sampai dua meter rentangnya (jarak saya dan lawan jenis tersebut).
Malam itu, saya sedang memasak mi instan dengan cara jahiliyah (cara anak asrama banget), yaitu dengan menggunakan bungkus mi sebagai wadah merebus mi mentah. Di kamar 302 I itu, saya sedang sendiri, yang masih bangun. Empat orang kawan saya, yaitu Luthfi (kini kuliah di ITS), Afif, Faris, dan Amal, sudah lelap. Mungkin saat itu jam sudah menunjukkan pukul 23, entahlah. Saya masih terbangun untuk mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai, atau karena memang sedang lapar saja sehingga memutuskan untuk makan mi.

Setelah mi dirasa 'cukup' matang, saya kemudian menggunting bagian bawah bungkus mi tersebut untuk mengeluarkan air rebusannya (cara ini sungguh sangat tidak disarankan, kawan) (semakin kurang sehat). Lalu saya tuang mi tersebut ke piring---oke, ini bagian yang tak perlu diceritakan, sepertinya.

Ketika saya mulai menyantap mi, saya mengingat kejadian yang terjadi beberapa hari lalu. Ini kejadian yang sangat menyentak saya, sejujurnya.

Saya bertabrakan dengan akhwat (ini di Icehs disebut begini, tapi mulai sekarang saya coba untuk tak memakai istilah ini lagi) atau perempuan.

Waktu itu memang posisi saya sangat dirugikan (saya terjebak). Di gedung pendidikan Icehs (tempat saya dan ratusan peserta didik madrasah aliyah itu belajar) atau yang lazim disebut gedung B, saya sedang berada di tengah lorong di depan kelas X IPS (kala itu). Saat itu, kala waktu istirahat, saya dan beberapa kawan sekelas saya memang berencana akan merekam suatu video di luar gedung. Di sekeliling saya, semuanya perempuan. Sepertinya saya kurang fokus sehingga ketika saya hendak 'menghindar' dari mereka (pergi dari kerumunan tersebut), saya malah menabrak salah satu dari mereka.

Saya---yang saat itu sangat terdoktrinasi oleh hijab 2 meter---langsung kikuk, namun sesegera mungkin meminta maaf kepada perempuan itu. Kami (sekelas) pun akhirnya melanjutkan perekaman video seperti sedia kala. Ketika usai, kami kembali ke kelas.

Di kelas, saya menceritakan kepada Amal bahwa saya baru saja menabrak perempuan. Kata Amal (kurang lebih), "Wah, Boy, menang banyak...". Amal yang dikenal ramah dengan perempuan ini meminta saya yang sedang kikuk itu untuk menenangkan diri agar dapat mengikuti pelajaran kembali seperti biasa.

*

Saya /nyengir/ saja ketika mengingat hal itu. Tak terasa mi yang saya santap sudah habis. Setelah merasa tugas-tugas sudah selesai, saya pun tidur sekitar pukul setengah satu dini hari.

Kemudian, saya tiba-tiba terbangun di kamar 108 gedung F (oke, ini berlebihan) (maaf -_-). Tak terasa sudah hampir dua tahun jarak antara makan mi di malam hari itu dengan hari ini.

Sudah satu---dua bulan sejak kepergian salah seorang kawan saya (untuk kesekian kali). Dia harus 'lulus' lebih dulu dari Icehs karena ketahuan 'ber-/Lawasonia enermis/-an' (silakan cari sendiri apa itu Lawa-/something/).

Masih terngiang dalam benak saya kata-kata Kak Fiki (sekarang kuliah di Jepang), kakak tutor saya di PTS (Ospeknya Icehs) Annaml tentang hijab 2 meter itu. Bahwa ketika bertemu dan hendak bercakap dengan lawan jenis, kami 'tidak boleh' berdekatan dan harus memiliki jarak minimal 2 meter. Bahkan ketika sedang ada di jalan (di Icehs), kami harus menjaga jarak sejauh itu. Tujuannya baik: untuk meminimalisasi kemudaratan yang dapat terjadi.

Kata-kata Kak Fiki dan kakak tatib membuat /mindset/ saya berubah hampir 180 derajat. "Selamat tinggal, masa-masa kelam di madrasah tsanawiyah," batin saya setelah selesai kegiatan PTS.

Itu dua tahun sebelum saya duduk di kelas XII. Ketika sudah kelas XII, lain lagi ceritanya. Banyak hal yang rumit bila dijelaskan hingga doktrinasi itu akhirnya hilang, pudar, lenyap, tidak ada, dan sirna.

Saya sendiri sudah tak saklek lagi dengan aturan itu. Bahkan saya menjadi salah satu anak yang acapkali melanggar "hijab" yang dulu terpatri dalam akal saya (walau banyak yang mungkin lebih parah dari saya). Saat berbicara dengan lawan jenis, saya pernah berjarak sangat dekat. Padahal, ketika itu kondisi sekitar saya tidaklah ramai (kalau ramai, wajar saja). Saat itu saya sudah dilanda rasa deg-degan (sangat manusiawi), tapi saya seakan tak sanggup untuk mundur memberi jarak walau hanya setengah meter. Namun setelah pembicaraan dengan perempuan itu selesai, saya akhirnya sadar dan hanya dapat memohon ampun pada Allah; dan berharap itu tak terulang lagi.

Peristiwa kawan saya yang keluar karena 'ber-Lawasonia enermis-an' itu membuat saya tersadar (dan lagipula itu bukan kejadian pertama) bahwa bagaimana pun menjaga jarak itu penting. Karena setan selalu ada dan bisa saja kita lengah dari penjagaan diri.

*

Kawan seangkatan saya sang ketua OS-C (kini kuliah di UNS) pernah berkata kepada saya dan beberapa kawan lain dalam suatu forum, (kurang lebih) bahwa "... hijab itu yang penting di hati. Percuma kalau hijab-hijab-hijab 2 meter tapi mata tetep ngelirik-lirik cewek. Percuma jaga jarak kalau tetep chat gaje nirfaedah sama lawan jenis. Percuma jauh, kalau masih berani 'Lawasonia enermis'-an."

Saya jujur pada awalnya tidak setuju dengan statement tsb. Karena menurut saya, setidaknya dengan menjaga jarak, segala hal buruk yang jadi efek 'percuma' menurut dia itu dapat diminimalisasi. "Apa gunanya kawan kalau tak saling mengingatkan?" batin saya dalam hati menanggapi ucapan dia. Namun, tak semua hal dapat disamaratakan. Tak semua orang bisa diingatkan dengan mudah.

Pada akhirnya kalau seperti itu, banyak yang setuju dengan statement dia---yang secara halus mengujarkan bahwa tak perlu ada jarak terlalu jauh antara cowok-cewek saat berinteraksi.

Namun, lama-lama saya pada akhirnya setuju.

Esensi hijab 2 meter bukanlah pada rentangnya, namun pada "penjagaan diri". Menjaga pandangan (ghadhu al-bashar) agar tak berlebihan dalam melihat lawan jenis. Menjaga ucapan agar tak membuat lawan jenis gede rasa (ge-er) atau yang sejenis. Menjaga hati agar tak mudah menaruh perasaan berlebihan yang cenderung membawa kepada kemudaratan. Dan lain-lain.

Maka, saat ini, ketika---lagi-lagi---salawat sudah terlantunkan di masjid depan rumah saya, saya sadar, bahwa saya harus tetap konsisten dengan "hijab 2 meter" dengan arti konotatif. Itulah salah satu harta karun berharga dari Icehs yang harus saya jaga.

Tunggu. Sebenarnya bukan harta karun Icehs. Tapi tepatnya; racikan tuntunan Alquran dan hadis Rasulullah saw.

Wa laa taqrabu azzinaa, innahuu kaana faahisyatan wa saa-a sabiilaa. Dan janganlah (kalian) mendekati zina, sesungguhnya itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk. (Ayat dan terjemah Surat al-Isra [17]:32)

Wallahu a'lamu bi asshawab

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)