#sedikitrangkaiankata 79: #TurMalangBanyuwangiAxiora: Yeay, Jalan-Jalan! (molekul 1 dari 5)

Kawan, ini adalah sebuah cerita tentang perjalanan kami; 14 orang remaja yang banyak ingin tahu, ceria, senang menjelajah, senang berkarya, dan sangat ingin menadaburkan keindahan ciptaan Allah swt.. Cerita tentang 7 hari penuh makna. 7 hari yang sangat ingin diulang kembali. 7 hari yang membahagiakan. 7 hari penuh canda tawa. 7 hari yang menyegarkan kembali jiwa kami yang lelah. 7 hari yang juga mengandung drama kehidupan. Dan 7 hari perjalanan yang dilingkupi kesyukuran.

Inilah perjalanan kami dalam #TurMalangBanyuwangiAxiora


Pracerita #MBSquadJournal
Inilah para anggota MB Squad; begitulah kami memberi nama pada kelompok kami (daftar ini adalah para anggota selain saya, ya, hehe)
Zidnal Mafaz, asal Pati, berkuliah di jurusan kedokteran UIN Malang
Ahmad Sirojul Millah (dipanggil Amil), orang Pasuruan, satu universitas dengan saya, satu rumpun perkuliahan
Ihsan Fauzan, manusia Tangerang Selatan, menempuh studi di jurusan keilmuan biologi di ITB
Farida Farah Adibah, tuan rumah (yang) Malang, satu fakultas/jurusan dengan Amil
Maulidia Annisa Hapsari (dipanggil Maul), tuan rumah di Banyuwangi, anak Politeknik Keuangan Negara STAN
Fia Nurul Fauziah, wong/urang Banten aseli Pandeglang, mahasiswa jurusan konseling di UNJ
Nadhira Khansa Adelia, asal Serang, calon arsitek atau planolog yang belajar di ITB
Miratsania Salsabila, perempuan dari Tangerang, anak teknik sipil dan lingkungan ITB
Salma Luthfiyah Sani, orang Kota Bekasi yang juga sekampus dengan saya, sedang belajar ilmu gizi
Nailil Izzatissa'adi, tinggal di Singkawang dan kuliah psikologi di UGM
Fariza Rizky Ananda, kelahiran Ciamis, sedang nuntut ilmu di departemen jurnalistik Unpad
Atrika Fitri Nur Cahyani, menetap di Trenggalek, calon dokter yang lagi belajar di UGM
dan
Wildatul Rizqiyah (dipanggil Wilda), berkuliah pariwisata di UGM


Perjalanan ini sudah direncanakan pada medio dua bulan sebelum April 2017. Pencetusnya sebenarnya bukan salah satu dari kami yang ada di atas, melainkan Adra dan Nuni (kawan saya sejak SD, kini satu universitas dengan saya). Setelah disampaikan kepada anak Malang yaitu Farida dan ditambah anak Banyuwangi yaitu Maul, rencana perjalanan pun disusun. Dan singkat cerita jadilah perjalanan kami ini (yang akan saya ceritakan dalam 5 molekul).

Mari kita mulai jurnal MB Squad ini dengan basmalah.

*

Siang itu, setelah menunaikan salat jumat di Masjid Kantor Pemerintah Kota Bekasi, saya dan ayah sudah berada di KRL jurusan Jakarta yang melewati Stasiun Jatinegara. Tujuan kami adalah Stasiun Pasar Senen, tempat saya akan bertemu dengan  kawan-kawan saya untuk berangkat bersama ke Kota Malang, tujuan saya dan 13 orang lain. Suasana kereta cukup lengang. Maklum, siang hari dan hari Jumat. Alhamdulillah saya bisa memejamkan mata barang sepuluh---belasan menit untuk me-recharge tenaga yang memang tidak terlalu banyak (karena saat itu saya sedang saum Daud, hehehe).

Kami (saya dan ayah) sampai di Stasiun Pasar Senen pada pukul setengah tiga. Berdasarkan informasi kawan saya di grup MB Squad di sebuah aplikasi media sosial, saya dan kawan-kawan akan berangkat sekitar pukul 15.15. Maka masih ada waktu sekira setengah jam sebelum kami naik ke kereta api Matarmaja. Setelah sampai stasiun, saya dan ayah menyambangi kawan-kawan yang telah menunggu saya (sayalah yang paling terakhir datang ke stasiun) di ruang tunggu penumpang. Ternyata tidak hanya 13 orang saja, namun ada empat orang lagi kawan saya yang juga ikut naik kereta bersama saya, yaitu ada Ashari, Azfar (mahasiswa UB/Unibraw jurusan kedokteran), Nada (mahasiswa kedokteran di UNS), dan Iza (mahasiswa teknik industri di ITB). Senang sekali rasanya saya bisa berjumpa kembali dengan kawan-kawan setelah menjalani libur pascaujian nasional di rumah selama beberapa jam.

Saya berpamitan dengan ayah setelah kembali mengantarkan beliau ke outlet penjualan tiket harian KRL.

Saya kembali ke ruang tunggu. Kami bercakap-cakap ringan saja. Rata-rata sudah asyik dengan gawai (gadget) mereka masing-masing. Beberapa kawan membeli makanan untuk makan malam (makanan di kereta tak ramah dengan kondisi keuangan sebagian besar penumpangnya). Mereka membeli di toko retail stasiun. Makanan di piring plastik. Saya sendiri sudah membeli makan malam yang saya beli di sebuah rumah makan padang di luar stasiun. Di sebelah saya ada Ihsan yang sedang menunggu ponselnya yang sedang dicas di tempat yang agak jauh dari tempat duduk kami. Ada Mafaz dan juga ada Ashari (papa ketiga saya; papa kedua adalah Pak Zainuri atau Pak Zein, guru bina asrama angkatan saya tercinta). Kalau tujuan saya dan 13 kawan MB Squad adalah Kota Malang, Ashari akan turun duluan di Stasiun Blitar (Ashari ini orang Tulungagung) (dari stasiun akhirnya ia akan meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus).

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam keberangkatan kami. Dengan barang bawaan kami masing-masing (saya hanya membawa satu buah ransel gendong dan sebuah ransel travel jinjing bukan koper) yang berbeda-beda; yang laki-laki (tiga orang itu) ada yang bawa koper ada juga yang bawaannya mirip saya, sementara yang perempuan mayoritas membawa koper (wajar), namun ada satu orang yang hanya membawa satu buah ransel gendong dan entah satu apa lagi (atau benar-benar hanya sebuah ransel), yaitu si Fia (setelah ini dipanggil Puyo) (bukan endorsemodeon, sans3). Puyo ini memang anak pramuka sejati yang pandai mengemas pakaian dan barang bawaan sehingga dapat muat di sebuah ransel, luar biasa *prokprokprok. Kami bergegas melangkah masuk ke dalam peron stasiun. Kami sempat mengabadikan momen sebelum naik kereta. Saat kereta siap, kami memasukinya dan menuju gerbong kami, gerbong 3 (dari 9 rangkaian gerbong).

Pada deretan kursi untuk tiga orang, saya kebagian tempat duduk bersama Mafaz dan Ashari. Awalnya, di seberang saya ada Nadhira (juga) dan sepertinya anak perempuan lain (Wilda atau siapa gitu ya). Akhirnya setelah mengalami penyesuaian, posisi duduk pun berubah. Di samping saya ada Ashari dan Amil, sementara di seberang saya ada Ihsan dan Mafaz (kursinya lowong satu; yang harusnya tempat Nisa Ahlam [tadinya anak ini juga mau ikut hehe]). Mereka berempat menjadi teman duduk di kursi-sembilan-puluh-derajat (namanya juga kereta ekonomi) selama kurang lebih 15 jam ke depan.

Perjalanan yang cukup panjang menuju tengah-tengah dari provinsi tertimur di Pulau Jawa.

*

Sebelum Magrib, perjalanan terisi oleh percakapan tentang apa pun. Ada pun yang mengisi waktu sejenak dengan melanjutkan tulisan mushaf Alquran. Saya memilih mendengar musik sejenak, sembari melihat pemandangan luar dari jendela kereta (ini memang favorit saya sejak kecil).

Ngomong-ngomong soal melihat pemandangan, jiwa penjelajah saya memang terpanggil karena itu. Dan kereta api ini juga dapat dibilang sebagai moda transportasi umum favorit saya. Selain karena pemandangan yang terhampar di luar (saya hampir tak pernah bosan melihat sawah, sawah dan sawah yang hijau), saya juga entah mengapa menemukan kesenangan tersendiri saat mendengar bunyi "gujes-gujes" yang ditimbulkan oleh reroda besi kereta. Saya teringat dengan perjalanan pertama saya menggunakan kereta api menuju Cirebon, kota kelahiran ayah saya (yang saya ingat itu ketika saya kelas 3 SD). Ketika itu saya, ayah, ibu dan adik saya menggunakan kereta Cirebon Ekspres (kereta eksekutif) (betapa bahagianya). Saya amat senang saat naik kereta itu.

Dan kesenangan itu akhirnya saya rasakan kembali setelah hampir 9 tahun saya tak pernah naik kereta api (saya cukup sering naik kereta, tapi kereta listrik bukan kereta api).

Tak terasa, waktu Magrib tiba. Saya dan Ashari berbuka puasa, sementara kawan-kawan yang lain juga turut menyantap makanan malam mereka. Saya makan ayam bakar dan menu khas restoran padang. Agak ribet karena saya tidak memakai wadah berbentuk tetap seperti yang kawan-kawan saya punya. Saya menyantap makanan langsung lewat bungkus kertasnya dan dengan tangan. Saya sudah terbiasa sih dengan cara itu, tapi memang terasa susah karena ruang gerak saya kurang leluasa (apalagi saya dan beberapa kawan tidak menaruh tas ransel saya di tempat tas di atas kami).

Setelah kenyang, kami pun melanjutkan "aktivitas" masing-masing. Kami menunaikan salat Magrib-Isya saat waktu sudah cukup malam, dengan dijamak dan diqasar secara bergantian sambil duduk di tempat kami masing-masing. Kira-kira saat itu sekitar pukul setengah sembilan atau setengah sepuluh malam.

Sebagian waktu di kereta kami gunakan untuk tidur. Ihsan yang membawa laptop sempat menonton sebuah film. Yang lain, ada yang tilawah Alquran, ada yang mengobrol lewat /chat/ (LINE saya mendadak error dalam perjalanan itu), atau mengobrol secara langsung. Saya dan kawan-kawan laki-laki memakan panganan yang diberikan kawan saya yang perempuan (Mira, kalau tak salah). Lumayan buat saya untuk mengembalikan energi setelah saum.

Ada perubahan rencana. Kami tidak jadi turun di Stasiun Malang.

(bersambung ke #sedikitrangkaiankata 85)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)