#sedikitrangkaiankata 84: Insan Cendekia: Bahasa

"I'm standing here as the representative of Language Division of OSIS, would like to tell you that today is Language Fun Day. I repeat, today is Language Fun Day. So, please use English or Arabic to speak during the time or you will get punishment. Thank you!"

*

That was not exactly the words said by M. Azzam Muzakki (now on ITB, Mechanical Engineering) few years ago, but that was close enough into it. I am still remembering it until now. That time, I was really young ._. , I mean I was knew nothing about "speaking fluently with foreign language". But, as the student of Icehs, soon I would need this ability not only for studying, but to enhance my capability on reading English journal for my writing resources, to speak with foreigners, etc..


/Dan kok saya merasa belum terbiasa ya nulis pake Bahasa Inggris 😟/
/Oke,/ kembali ke Bahasa Indonesia dulu ya, hehe

Saya ingat, dulu ketika awal-awal jadi anak Icehs, saya "didaulat" untuk menjadi raqib (bahasanya serem), yaitu "mata-mata" (populer disebut Jasus di kalangan anak pesantren semacam Pondok Modern Gontor) yang bertugas nyatetin para pelanggar bahasa. Ya maksudnya orang-orang yang pas Language Fun Day (LFD) teteupan make bahasa Indonesah Indonesia atau bahkan bahasa daerah.

Lah, namanya kan LFD, masa dibatasi dengan hanya bahasa Inggris (apa pun) dan al-lughatu al-'Arabiyyati (bahasa Arab) doang?

Tidak sepenuhnya benar, kok. Memang sih, terasa klise kalo cuma Inggris-Arab doang, mengingat bahasa asing itu bukan hanya keduanya. Namun, divisi bahasa OS-C pun membolehkan anak-anak Icehs untuk menggunakan bahasa asing lain. Anak-anak Icehs ada juga kok yang bisa bahasa Rusia, bahasa Korea, bahasa Jepang, bahasa Turki, bahkan... bahasa Melayu (hmm...). Tapi, kan, yang bisa bahasa-bahasa tersebut tidak banyak. Bahkan mungkin hanya seseorang saja. Ya kali ada percakapan yg diawali dengan (katakanlah) bahasa Italia kepada orang yang tidak memahami artinya.

Mau jawab apa?

(Mau jawab apa? *ceritanyabergema)

Nah, fenomena "Mau jawab apa?" itu pun terjadi dalam percakapan dengan "dua bahasa wajib saat LFD" antara anak-anak Icehs sekalipun.

*

Saya masih belajar menggunakan bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab (asli saya sering betul lupa-lupa yang satu itu. Maaf ya, Ustadz Zain, Bu Novi, Pak Bahrul, Syaikh 'Ali, Syaikh Humaida 😢 ). Mungkin masih level begineer, syukur-syukur sedikit lagi bisa jadi intermediate. Kalau sekadar bercerita atau membuat jurnal dengan bahasa Inggris, insya Allah saya cukup lancar. Nah lain cerita ketika disuruh bercakap.

Baru-baru ini, saya punya pengalaman yang cukup mengesankan. Saya "gagu" ketika ujian praktek speaking/presentating topic di depan Miss Nefa (I really apologize to you for that moment). Maybe it caused by me who not understand enough about that topic. Dan hal tersebut menjadi pelajaran yang amat berharga buat saya untuk terus meningkatkan kemampuan ngomong dan paham bahasa Inggris tea.

Namun, yang unik, anak-anak Icehs ini, walaupun masih mengalami fenomena "Mau jawab apa?" walau dengan bahasa Inggris (karena level speaking anak-anak tentu berbeda-beda, ada yang masih sangat belajar kayak saya atau ada juga yang nyerocos bae pas ngomong seperti Virdi [HI UI], Inas [di PKN STAN], dkk), kami tetap bisa dengan lancar ngobrol saat LFD dengan metode "gado-gado". Ngomong bahasa Arab dicampur Inggris, Inggris dicampur Indonesia. Bahkan kadang dicampur bahasa Jawa!

Fenomena tersebut memang sudah cukup wajar pada boarding school atau pondok pesantren yang menerapkan kewajiban bagi para peserta didiknya untuk berlatih menggunakan bahasa asing terutama Arab dan Inggris secara intensif. Yang saya tahu, rata-rata pesantren mentoleransi peserta didik baru pada 6--12 bulan pertama untuk dapat menggunakan bahasa campursari itu (Arab-Inggris campur bahasa lain). Setelahnya, mungkin mau tidak mau sang peserta didik harus wajib kudu pake bahasa Arab-Inggris murni tanpa campur-campur.

Alhamdulillah, di Icehs tidak sebegitunya. Madrasah kami itu (pada saat terakhir yang saya ketahui) melalui OS-C memang hanya menerapkan peraturan must using bahasa asing when speaking *aih, ngomong apa ini._.* pada hari-hari tertentu saja. Biasanya pada hari Rabu--Jumat. Kalau ketahuan ngelanggar, nanti dapat poin yang akan menghasilkan hukuman tergantung jumlah akumulasinya pada satu periode. Hukumannya "gak sulit", hanya menyetor not usually used vocabulary on English or Arabic (maksud saya, kosakata yang unik), membaca puisi, atau menyampaikan pidato dalam bahasa asing.

But, for the three years memorable experiences on LFD, when delivering speech with English, or when having a conversation with fluent speakers 😂, I am really thankful to my fellas from the Language Division (especially for Virdi and Maisaroh [now she is studying at Padjadjaran University], and Benny [my younger brother-on-Icehs, still work hard on Icehs) of OS-C, and to our beloved foreign languages teachers on Icehs (Ms. Yuna, Ms. Eneng, Sir Imam, etc.) who have taught us, the students, to understand the way to learn and to know the importance of foreign language ability in our life 😊

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)