#sedikitrangkaiankata 80: Lima Orang Baik

Saya pernah bertemu dengan lima orang baik selama sehari. Lima orang baik ini saya ingat karena berhasil menjadi salah satu reminder terbaik bagi saya dalam hidup saya yang sudah 17 tahun lamanya ini. Lima orang baik ini saya temui pada 7 Mei tahun ini. Mereka saya temui dalam perjalanan izin khusus saya pada hari-hari terakhir saya menjadi peserta didik madrasah aliyah itu. Saya menganggap mereka istimewa karena ketika itu saya memang sedang agak galau. Ya sedang capai aja sih. Superintensif yang luar biasa melelahkan (walau banyak istirahatnya juga). Tantangan terbesar setelah wisuda/pelepasan: SBMPTN. Nah, beliau-beliau inilah pengobat hati saya, selain kedua orang tua kandung saya dan orang tua lain yang mengasuh saya di Icehs.


Hari itu, saya dan ayah hendak membeli sepatu untuk dipakai saat pelepasan saya yang tinggal enam hari lagi. Kami memulai hari dengan membeli sarapan.

Saya tepatnya membeli sarapan untuk kami sekeluarga di sebuah kios di daerah Kampung Bojongsari, kampung sebelah tempat tinggal saya (tadinya saya tinggal di kampung itu).

Kios tersebut menjual nasi uduk betawi, ketan kukus, dan gorengan. Simpel. Di kios itu terkadang hadir satu---dua macam kue basah macam gemblong atau yang sejenisnya. Yang menjadi menu utamanya jelas nasi uduknya. Nasi uduk tersebut menjadi istimewa karena selain disajikan dengan semur tahu-tempe-kentang (standar nasi uduk betawi; namun sang penjual tidak menambahkan jengkol pada semurnya) dan bawang goreng, disertakan pula sambal kacang yang menurut sebagian besar pembeli nasi uduk terasa enak, khas, dan tidak ada saingannya (saya termasuk yang berkata seperti itu).

Hal tersebut---sambal kacang---yang membuat saya sangat bahagia ketika membeli sarapan di sana. Saya sudah berlangganan sejak sekira tujuh---delapan tahun silam. Dulu ketika masih tinggal sangat dekat dengan kios nasi uduk tersebut, saya hampir setiap pagi membeli nasi uduk di sana. Kini, setelah pindah rumah (apalagi setelah saya diasramakan) saya jadi jarang membeli di sana.

Oke, lantas di mana orang baiknya?

Orang baik yang pertama dalam cerita ini adalah ibu penjual nasi uduk.

Ibu ini tak pernah lelah dalam berjualan, walau hanya sendirian. Seringkali para pembeli---biasanya ibu-ibu---membantu ibu penjual tersebut untuk mengipasi nasi uduk yang masih panas karena baru dikeluarkan dari langseng. Atau membantu menggoreng bakwan atau gorengan lain kala sang ibu penjual tersebut sedang melayani pembeli lain. Kami---para pelanggan setia---salut terhadap beliau yang tidak "teriak-teriak" terhadap anak beliau (perempuan) yang tidak membantu beliau dalam berjualan (padahal jelas-jelas berjualan sendirian melayani hampir lima---tujuh pembeli itu terlihat melelahkan). Dengan penuh keramahan, ibu itu tetap melayani kami yang kadang tidak sabaran.

Dan saya sepertinya belum bisa mencontoh keuletan ibu tersebut.

*

Sebelum berangkat bersama ayah ke Plaza Pondok Gede, saya menjemput adik saya di tempat lesnya di kampung yang sama dengan tempat saya membeli nasi uduk tadi. Saya tidak membawa dompet, hanya membawa ponsel dan itu pun ponsel adik saya. Dengan tenang, saya mengendarai sepeda motor ke kampung itu.

Eh, ketika sudah dekat dengan tempat les adik saya..... mendadak motor saya ngadat-ngadat ketika. Saya langsung berprediksi, "Wah... bensin, nih." Saya pun memelankan motor ketika telah berspekulasi bahwa motor saya KEHABISAN BENSIN. Panik? Ya gitu deh. Akhirnya motor saya pun berhenti total tepat di depan gang menuju tempat les adik saya.

Ketika sudah bertemu adik, saya bilang, "Sayyid, kamu bawa uang gak? Aa lupa ngisi bensin tadi. Bensinnya habis hehe." Sayyid pun langsung merogoh isi tasnya, lalu berkata, "Maaf, A, gak bawa nih." Saya langsung putar otak. Saya sudah menemukan "penyambung hidup" motor saya; di ujung pandangan saya, saya melihat ada kios bensin eceran. Pinjam uang buat beli bensin... ke siapa? Ketika sudah kembali ke motor bersama adik, salah satu teman adik saya lewat. "Sayyid, tolong pinjemin uang dong." Kemudian adik saya mengangguk dan meminta pinjaman pada temannya (sumpah, ini gara2 gak bawa dompet). Hasilnya nihil.

Ketika saya sudah mulai buntu dalam berpikir, saya pasrah pada Allah. Lantas muncul ide dalam pikiran saya untuk membeli bensin di kios yang saya lihat namun membayar bensinnya nanti (bahasa kasarnya ngutang). Akhirnya saya beranikan diri untuk menyambangi kios bensin itu, lalu berkata, "Pak, maap nih, saya keabisan bensin tapi kagak bawa duit. Boleh kagak saya ngutang dulu?" Dengan senyuman, bapak pemilik kios itu berkata, "Wah, silakan, Bang, kagak apa-apa. Santai aja." Kemudian istri beliau pun mengisikan seliter bensin ke tangki bensin motor saya.

Wah, saya bersyukur sekali. Setelah berterima kasih, saya berkata, "Pak, ntar saya ambil duit dulu ya. Saya bakal balik lagi kok." Bapak itu mengangguk lalu saya pulang ke rumah bersama adik saya.

Setelah mengambil uang di rumah, saya bergegas kembali ke kios bensin lalu memberi uang sejumlah harga bensin yang tadi saya beli. Bapak itu berkata, "Beneran nih ada duitnya?" Lha, beneran, pak. Saya jadi gak enak sendiri he, dikira orang gak punya sangat. Saya balas saja dengan senyuman setelah memberi uang itu, lalu berterima kasih untuk kedua kali dan lantas pergi kembali ke rumah.

Bapak penjual bensin itu adalah orang baik kedua yang saya temui.

Orang baik ketiga saya temui ketika sedang ingin memarkir motor di daerah Pasar Pondok Gede Lama.

Ceritanya, saya sudah bersama ayah hendak membeli sepatu untuk pelepasan saya dari Icehs yang tinggal hitungan hari itu. Ayah memutuskan untuk membelikan saya sepatu di sebuah toko sepatu yang cukup ternama di Indonesia. Yang terdekat sih di Plaza Pondok Gede. Nah, setelah sudah hampir sampai mall tersebut, ada sebuah pasar yang biasanya menjadi tempat parkir kesayangan saya atau ibu saya kalau sedang ingin mampir ke mall.

Lha, ternyata saya dan ayah saat itu tak tahu bahwa si pasar sedang direnovasi total---tidak ada akses karena isi lahan pasar hampir sepenuhnya adalah kerangka beton dan kayu-kayu penyangga bangunan. Mana jalanan macet lagi. Kami hampir kebingungan hendak memarkir motor di mana, hingga akhirnya ada seorang ibu-ibu yang menawarkan kios kecilnya di depan pasar yang sedang direnovasi untuk jadi tempat singgah sementara bagi motor kami.

Tanpa pikir panjang, kami pun memarkir motor lalu mengucap terima kasih kepada ibu pemilik kios itu. Kalau tidak ada ibu itu, mungkin kami tidak tahu harus parkir di mana (karena saat itu kondisi jalanan sedang crowded dan khawatir hujan turun pula).

Alhamdulillah, tak perlu lama-lama, saya dan ayah berhasil menemukan sepatu yang akan saya pakai pada acara pelepasan nanti.

Ketika akan pulang, saya dan ayah hendak masuk ke jalanan yang lagi-lagi saat itu masih padat. Kami sudah ada di atas motor. Para pengendara rata-rata tak peduli untuk memberi jalan kepada kami. Tapi ternyata, ada seorang pengendara mobil yang menghentikan laju kendaraannya sejenak lantas mempersilakan saya untuk memasuki jalan. Saya pun mengangguk berterima kasih kepada pengendara mobil itu, entahlah pengendara itu melihat anggukan dan senyuman saya atau tidak. Biarlah.

*

Itu orang baik keempat.

Orang baik kelima yang saya temui adalah orang yang murah senyum. Saat ini menemukan orang murah senyum merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Terlepas dari apakah senyuman orang itu adalah senyum SKSD atau senyum ada maunya atau senyum lain-lain, saya sering membalas senyuman itu. Kadang berusaha untuk tulus, kadang ya dipaksa (kalau-kalau saat itu saya sedang suntuk karena lelah atau hal yang lain).

Ketika sadar bahwa senyum adalah sedekah, saya pun hendak berusaha untuk selalu konsisten tersenyum kepada orang-orang yang saya temui di mana pun. Atau setidaknya memastikan bahwa wajah saya yang terlalu apa adanya ini tidak terlihat "menyebalkan" (hehehe) pada pandangan orang lain.

Itulah lima orang baik yang saya temui pada 7 Mei lalu.

Sungguh, begitu banyak kebaikan yang bertebaran di muka bumi. Percayalah, masih lebih banyak kebaikan ketimbang keburukan. Mungkin Anda hanya melihat satu sisi---keburukan---saja dan melihatnya berkali-kali sehingga relativitasnya seakan tiada. Tidak. Saya memilih untuk yakin bahwa di dunia ini masih lebih banyak jumlah orang baik daripada orang kurang baik. Lima orang yang saya ceritakan tadi hanyalah segelintir contoh sederhana untuk mencoba menyadarkan saya secara khusus dan Anda untuk dapat menjadi baik. Ikut baik. Dan selalu baik. Semoga.

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)