#sedikitrangkaiankata 81: Ini Namanya Zetta

Halo, perkenalkan, namaku Zetta (ini tumben-tumbennya lho aku memperkenalkan diri seperti ini) (hanya sekali ini saja, setelahnya penulis yang akan menceritakan serunya perjalanan hidupku hehehe)

Aku lahir di sebuah desa kecil nun jauh di negara dengan luas wilayah terbesar di dunia. Entahlah mengapa waktu itu ayahku---yang orang Jawa tulen---kepikiran saja untuk meminang ibuku---yang berdarah Kazakh dan juga Muslim seperti ayah.


Kini usiaku 19 tahun. Menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas ternama di negeriku. Anak-anak yang kuliah di sana terkenal dengan jaket almamater mereka yang berwarna hijau /matcha/. Aku menempuh pendidikan kedokteran. Kata orang sih, kalau mau masuk FK---bahasa keren jurusanku---di sana susahnya minta ampun. Anak pintar saja tidak bisa masuk ke sana lewat jalur undangan negara.

Tapi aku masuk ke sana lewat jalur undangan negara.

Aku senang menulis. Tapi aku lebih senang bercerita. Walau laki-laki, kata Bu Sari, guru bahasa indonesiaku kala di madrasah aliyah dulu, aku merupakan pencerita yang ulung. Aku tak begitu suka bercerita lewat tulisan---maka aku sering diomeli oleh guru bahasa indonesiaku yang lain, Pak Seku, yang berkata bahwa semestinya aku dapat menjadi novelis keren sebelum lulus madrasah. Tapi aku tetap jadi murid kesayangan Bu Sari dan Pak Taufik---guru bahasa indonesiaku yang ketiga di madrasah dulu.

Aku pernah menjuarai sebuah kontes bercerita yang pesertanya hampir seluruhnya perempuan kecuali aku. Juara satu kudapat. Tingkat nasional. Lalu, aku melanjutkan kesenanganku menjadi pencerita dengan mengikuti lomba tingkat internasional di Polandia. Aku menang lagi---waktu itu aku bercerita dengan /mostly Bahasa/ dan hanya satu---dua patah kata saja yang menggunakan bahasa Inggris atau sesekali bahasa Polandia. Juara satu lagi. Sontak namaku terkenal seantero bumi.

Aku bahagia? Jelas.

Tapi semua berubah ketika nenek meninggal.

*

Nenekku adalah pencerita ultraulung. Aku sangat berterima kasih pada beliau karena beliaulah yang berhasil mendidikku menjadi pencerita yang luar biasa.

Aku terkenal sangat-sangat-sangat-sangat-sangat tidak bisa diam (maaf kata sangat-nya kuulang lima kali agar kau tidak lagi tak yakin bahwa aku adalah anak yang memang terkategorikan sebagai hyperactive child). Hampir semua benda beling di rumahku aku yang memecahkannya. Bahkan itu membuat ayah dan ibuku memutuskan untuk meloakkan seluruh barang beling atau "anti pecah (maksudku tidak boleh pecah)" di rumah---bahkan matryoshka kesayangan ayah pun dijual.

Namun nenekku berhasil mereduksi kelincahanku kala aku berusia tiga tahun hingga lima tahun.

Ketika itu adalah tiga hari setelah aku kehilangan barang untuk dipecahkan di rumah. Nenek yang kala itu masih berusia kepala lima ternyata datang berkunjung ke rumah. Senyuman nenek saat itu menjadi senyuman pertama beliau yang terpatri di pikiranku, sampai sekarang ketika aku menceritakan ini.

Nenek memang jarang berkunjung, karena kami tinggal di kota dan nenek tinggal di desa yang sangat jauh dari sini---rumah ayah dan ibu dan aku. Rumah nenek beda provinsi dengan rumah ayah-ibu. Tiga hari setelah nenek meninggal, ibuku berkata bahwa kala itu bisa dibilang sebagai kunjungan ketiga nenek ke rumah ayah-ibu. Dan kunjungan itu sangat spesial dan seringkali membuat ibu menangis kala mengingat kebaikan nenek di hari itu.

Waktu itu, nenek membawa semacam oleh-oleh khas provinsi beliau tinggal. Gerabah sepertinya. Ketika aku sadar bahwa nenek membawa barang yang mudah menjadi berkeping-keping, aku langsung "bersiaga". Usai menyalami tangan nenek yang kala itu masih halus, aku lantas menyerbu oleh-oleh nenek yang hanya seukuran gelas 350 mililiter itu. Kupegang. Nenekku yang murah senyum itu masih senyum-senyum saja. Dari dapur rumah, ibuku kaget ketika melihatku memegang gerabah itu.

Dan terjadilah.

Prang

Gerabah yang ternyata harganya saat itu mencapai puluhan juta dalam mata uang negaraku pun pecah.

Ibuku yang agak galak spontan memarahiku. Biasanya aku biasa saja. Tapi yang ini beda. Tatapan mata ibuku terlalu tajam dan berhasil menyayat hatiku---bocah laki-laki yang kala itu berumur lima tahun (tapi tenang saja, aku sudah memaafkan kekhilafan ibuku kok, sejak aku mengerti bahwa marahnya beliau adalah tanda sayang).

Tatapan itu membuatku menangis, untuk pertama kalinya sejak tangisan kesekianku berakhir kala umurku menginjak satu tahun.

Nenek masih tersenyum. Nenekku entah ngomong apa ke ibuku. Ibuku langsung kembali ke dapur, menyelesaikan masakan beliau.

"Zetta, ayo jalan-jalan sama nenek!" ucap beliau dengan sangat lembut sambil menggenggam tanganku.

*

Setelah nenek meninggal, mengingat kejadian itu selalu membuatku merintih. Sedih.

Tiga puluh tiga hari setelah nenek meninggal, kemampuan pencerita ulungku seperti sirna.

Entahlah apakah aku terlalu larut dalam kesedihan hingga semua yang diceritakan nenek padaku seakan hilang tenggelam ke dalam lubuk akal terdalam dan belum dapat kutemukan kembali.

Namun, semua berubah kembali ketika aku mengenal Nida.

(bersambung pada cerita selanjutnya)

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)