#sedikitrangkaiankata 82: Itu Namanya Nida

Namaku Nida.

Aku tak dapat banyak menceritakan diriku. Biarlah nanti sang penulis yang menceritakan detil hidupku.

*

Ah, penulis, kau benar-benar memaksaku untuk bercerita?

Iya, sedikiiit saja. Please, Nida, me really need ur own story b4 i told it to every1.

Oke-oke-oke.


Bismillah.

Nida bukan perempuan yang terlalu ramah. Tapi, alhamdulillah Nida juga bukan perempuan yang kurang ramah. Nida selalu berusaha tersenyum, walau kadang pernah juga terlihat cemberut di depan teman. Mungkin ketika itu Nida sedang lupa Allah. Lupa bahwa kurang baik rasanya bila cemberut di depan teman yang mungkin tidak punya kekhilafan. Maka biasanya aku langsung meminta maaf kepada teman Nida yang melihat Nida cemberut itu.

Aku---Nida---hanyalah lulusan sebuah pesantren yang kata orang bagus di daerah yang sejuk di Bogor. Hafalanku masih belasan juz saja. Dulu melanjutkan pendidikan di madrasah aliyah. Alhamdulillah, aku berhasil menambah hafalan sekitar lima hingga enam juz selama tiga tahun menempuh pendidikan di tingkat menengah atas.

Alhamdulillah aku telah selesai menghafal Alquran sekitar tiga bulan setelah lulus madrasah aliyah.

Saat ini, aku kuliah di fakultas kedokteran nomor satu di Indonesia---kata orang-orang sih. Ketika masuk kuliah, aku masih berusia 17 tahun---karena aku lahir tahun dua ribu, di bulan Mei. Agak kikuk sih jadinya hehe, gara-gara akulah yang berusia termuda di sana. Lambat laun aku berhasil menyesuaikan diri.

Kini, di usia 18 tahun, aku aktif dalam lembaga dakwah kampusku.

Aku kenal Zetta sejak pertama kali masuk kuliah. Dia anak yang lincah. Sangat lincah. Di antara anak laki-laki lain, walau aku jarang memperhatikan hehe, dia adalah yang terlincah. Dia periang, dan selalu berhasil menjadi inspirasi bagi banyak kawan-kawannya agar tidak murung walau harus ikut remedial sebuah mata kuliah (matkul). Ini menurut cerita salah satu kawanku yang perempuan ya. Alhamdulillah aku berhasil istikamah menjaga 'iffah untuk tidak memperhatikan seorang laki-laki yang bukan mahram secara berlebihan.

Tapi semua berubah ketika Zetta memutuskan untuk pindah dari universitas.

Kawan-kawan kuliahku sedih bukan main. Ketika itu bahkan kawan terdekatku yang perempuan pun sampai menangis, lalu berkata, "Nida..... gue belum pernah ketemu sama laki-laki sebaik dia. Dia yang sering nraktir gue dan kawan-kawan. Dia yang seneng banget cerita-cerita yang kadang lucu-lucu, kadang inspiratif, kadang nyelekit, wah apa aja deh dia mah bisa cerita. Asli dia baik banget, gacuma sama temen-temen cowok but sama temen-temen cewek, bahkan lo pernah dikasih dia bunga, kan? Gue sempet cemburu dikit sih. Tapi udah gue maafin kok hehe. Gue bener-bener kecewa pas pertama kali denger dia harus pindah..... padahal kan dia anak undangan negara, kok bisa-bisanya dia pindah ya? Asli, Nid... gue sedih..."

Aku tak banyak membalas ucapan Vera---itu nama kawan terdekatku tersebut. Karena aku memang tipikal perempuan yang pendiam. Aku hanya kasih pukpuk ke dia, lalu berkata, "Sabar. Insya Allah kan nanti kamu bisa ketemu lagi."

Hanya itu. Dan kusisipkan senyum terbaik yang bisa kuberikan padanya. Vera membalas senyum itu, lalu bercakap, "Makasih, Nid, udah jadi bestie gue sejak dulu :) ."

Kubalas dengan ucapan terima kasih kembali.

Memang, ini sudah hampir empat atau lima bulan sejak Zetta pindah kuliah. Yang patut disayangkan, Zetta lost contact dengan kami, kawan-kawan kuliahnya dulu.

Sampai akhirnya, semalam, Zetta mengirimiku sebuah surat lewat posel. Isinya hanya begini,

"Nida, maafkan saya. Saya tidak bisa mengabari kamu dan teman-teman yang lain. Mohon doa yang terbaik untukku di sini.

Salam dari Rusia
Zetta"

Hanya itu.

Aku jadi terpikir, sebenarnya ada apa dengan Zetta ini.

(bersambung pada cerita selanjutnya)

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)