#MBSquadJournal: Diusilin Tes

Kenapa bisa gak jadi turun di Kota Malang?

Kami akhirnya turun di Stasiun Blitar, beberapa stasiun (cukup jauh sih) dari Stasiun Malang Kota yang harusnya jadi tempat turun kami dari kereta api Matarmaja. Hal itu dikarenakan adanya kabar duka yang menjelang pada Farida, sang tuan rumah bagi kami anak-anak Squad. Kakek (atau Mbah) Farida meninggal dunia. Maka, kami pun ikut mengunjungi rumah Mbahnya Farida untuk melaksanakan salat jenazah.

Setelah berfoto di depan Stasiun Blitar dan berpisah dengan Ashari (aku tak sempat pamitan dengan serius ke si papa itu) (Azfar sudah jalan duluan karena beda gerbong), kami naik elf yang sudah dipesan oleh Bapaknya Farida menuju rumah Mbah.
Tak lama, hanya belasan menit dari stasiun kami sampai di rumah Mbah. Setelah bersalaman dengan keluarga dari Bapaknya Farida, kami menyantap sarapan berupa opor ayam, sayur dan tempe goreng yang mengenyangkan diri kami.

Setelah itu, kami rehat sembari menunggu para pelayat datang. Cukup ramai. Usai ramai, aku, Ihsan, Amil dan Mafaz ikut menunaikan salat jenazah lalu mendoakan mendiang Kakeknya Farida.

*

Rehat kami di rumah Mbaknya Farida berlangsung cukup lama. Pada awalnya kami akan segera berangkat menuju Malang dengan elf yang sama. Namun karena satu-dua hal yang bermasalah pada "sang" elf, kami akhirnya menunggunya pada beberapa waktu. Anak-anak cowok kebingungan. Ponsel saya bermasalah pada jaringannya dan baterainya pun lemah. Tiga yang lainnya ya sama-sama gabut, gak ngerti mau ngapain.

Kalo yang cewek, mereka bersepuluh punya cara sendiri. Mereka memilih untuk memainkan permainan masa kecil kami. Entah saya lupa nama-namanya. Yang paling saya ingat salah satunya hanya ABC-5-Dasar. Anak cowok sih senyum-senyum saja. Kelihatannya kami berempat nampak lebih kelelahan dibanding yang cewek.

Hingga tak terasa waktu Dzuhur menjelang. Mau salat, hanya Farida yang sudah mandi--sisanya belum. Kami memutuskan untuk menjamak salat dzuhur di akhir waktu bersama salat asar.

Elf pun datang. Kami senang. Akhirnya kami kembali menumpang di dalam elf dan pergi menuju tempat tujuan utama kami: Ngalam!

*

Mayoritas dari kami tertidur pada dua pertiga perjalanan. Saya yang biasanya senang betul menghafal nama-nama kecamatan atau desa/kelurahan yang kami lewati (atau mungkin nama jalan) merasa terlalu ngantuk untuk melakukannya. Tak terasa kami sudah sampai di daerah Kepanjen untuk berhenti sejenak makan siang. Kami melahap bakso (ini beneran asli rasa Malang nih he) yang menurutku salah satu yang terenak dari segi rasanya.

Kenyang dengan makan siang, kami melanjutkan perjalanan yang tinggal kurang lebih seperempat jumlahnya menuju rumah Farida. Tak terasa, kami sudah masuk daerah Kota Malang dan asyik melihat suasana yang sudah mirip-mirip perkotaan Kota/Kabupaten Bandung atau Kota Bogor. Cuaca Kota Malang yang relatif sejuk sudah tak sabar kami rasakan.

Ada satu kejadian unik yang terjadi di dalam elf. Saat itu, elf kami sedang melaju agak pelan karena terhambat kemacetan. Eh, tepat pukul 15 atau 3 sore... terjadilah sebuah hal.

Diinisiasi oleh Ihsan Fauzan, kejadian ini sontak akan mengubah suasana perjalanan kami menjadi lebih dramatis. Hal tersebut terjadi karena Ihsan menjadi sangat terbawa perasaannya karena "ulah" dia sendiri.

Dia membuat status facebook seperti di bawah ini.

Maaf namanya lupa dihilangkan ._.


Sayalah yang pertama kali menyadari hal tersebut. Tepat setelah Ihsan mem-posting statusnya di facebook, saya membacanya kemudian. Dan..... kemudian menyebarkannya kepada yang lain. Farida yang duduk di sampingku adalah yang "kedua" mengetahui pesan itu. Lalu, ramailah seisi elf.

"Siap-siap rame, San, wkwk," begitu kurang lebih perkataan Amil (kesalahan redaksi mohon dimaafkan).

*

Setelah kejadian menggemparkan itu, cerita Squad di hari-hari berikutnya menjadi lebih berwarna. Luar biasa.

Tak terasa, kami sampai di rumah Farida di daerah Kecamatan Lowokwaru di sebuah kompleks perumahan. Memasuki rumah Farida yang nyaman, asri, sejuk, lalalalala membuat kami persis melupakan penat kami sepanjang jalan. Demi menghemat waktu yang sudah jelang magrib, kami bergegas bergantian mandi untuk lalu menunaikan salat zuhur dan asar.

Usai salat, kami menyempatkan diri untuk rebah-rebahan di kamar masing-masing. Anak-anak cowok numplek di kamar tamu bagian belakang rumah, yang persis di depan kamarnya yang semiterbuka terdapat taman buatan yang enak jadi tempat nongkrong atau sekadar membuang lelah. Anak-anak cewek saling berbagi tempat di dalam rumah.

Di kamar kami (saya, Ihsan, Amil, Mafaz) yang tidak begitu besar, kami berbagi lahan untuk tidur nanti malam. Ihsan memilih tidur lesehan dengan karpet tidur di bawah kami bertiga (sisanya) yang akan memejamkan mata di kasur yang empuk.

Nah, saya kan bawa beberapa "bahan belajar" yang semalam, ketika di kereta, sudah saya santap walau hanya sedikit saja. Lah, buat apaaan?

Karena esok hari saya akan mengikuti TES MASUK UNIVERSITAS!

Saya, Maul, dan Atrika akan menjalani serangkaian tes penerimaan jalur beasiswa pada sebuah universitas swasta bergengsi yang berlokasi di Kabupaten Bandung. Di mana kami akan tes? Kami akan menempuhnya di lokasi terdekat yang alhamdulillah tersedia pada pilihan di laman pendaftarannya (tes dilaksanakan serentak di 30 kota, mirip-mirip tes Icehs lah skala nasional), yaitu di Kota Malang. Tepatnya, kami bertiga akan tes di SMAN 1 Kota Malang.

WOOOH LAGI JALAN-JALAN MASIH ADA TES!!!

Maka, semalam saat di kereta, ketika mayoritas anak-anak menikmati perjalanan yang walaupun bikin pegal tapi cukup menyenangkan, saya, Maul (yang ketika melihat saya belajar akhirnya ikut-ikutan juga wkwk) dan Atrika (dia belajar di kereta gak ya? hm ya beda kelas lah hahaha) "berjuang" belajar di kereta api! Kalau saya membayangkannya lagi ketika itu, kondisinya hampir tidak menyenangkan sama sekali buat belajar. Kursi hampir 90 derajat dan berhadap-hadapan serta jarak kaki antara dua saf penumpang yang sangat sempit membuat saya mati-matian mengerjakan sedikit soal yang sengaja saya robek dari modul belajar SBMPTN yang dibuat oleh panitia pra-persiapan dari Icehs (ngomong-ngomong saya sangat berterima kasih pada Pak Nur, salah satu guru fisika terbaik saya, yang sudah berbaik hati membuatkan paket-paket soal fisika untuk tes masuk perguruan tinggi hehehe!).

Saya sempat meminta bantuan Amil. Kalo saya ngerjain sendiri sih, ya apalah daya (soal masuk perguruan tinggi butuh "kepintaran" lebih dalam mengerjakannya) bagi saya yang biasa saja pada mata pelajaran fisika (apalagi pada UN kemarin saya milih biologi). Paling saya hanya dapat mengerjakan tiga--empat soal yang masih basic. Nah, soal-soal yang agak-agaklah saya tanyakan pada Amil yang saat ini merupakan peserta Pelatihan Nasional (Pelatnas) tahap 3 pada persiapan olimpiade astronomi internasional (ada IAO [International Astronomy Olympiad] dan IOAA [International Olympiad on Astronomy and Astrophysics]) bulan Agustus 2017 nanti. Waktu itu saya minta tolong Amil mengerjakan soal tentang dinamika gaya dengan penerapan Hukum Newton I dan II dan juga hukum torsi. Amil mampu mengerjakannya (dan saya minta Amil untuk menjelaskannya sesederhana mungkin). (nanti si Amil ini akan kita bahas pada molekul lainnya dari cerita ini).

Dan di kamar tamu pada rumah Farida ini, saya kembali mengoprek soal-soal fisika (karena pada tes hanya diujikan mata pelajaran matematika dan fisika, dan TPA [Tes Potensi Akademik], bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia). Hal ini memang kudu saya lakukan setidaknya demi membuat otak saya panas untuk tes esok hari.

Azan magrib berkumandang. Setelah menunaikan salat magrib dijamak isya, kami berempat belas menyantap makan malam (hm menunya apa ya?). Lalu setelahnya kami bersiap-siap untuk.....

berangkat jalan-jalan!!!

Wah, sayangnya tumpangan mobil daring yang kami pesan kok susah ya?

(berlanjut pada molekul 3!)

Comments

Popular posts from this blog

Keuntungan dan Kerugian Diplomasi dan Konfontrasi pada Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Siapa itu: Abdulkadir Widjojoatmodjo dan Sultan Abdulhamid II (Sultan Hamid II)